phone: +6281254509366
e-mail: rizki_apriady46@yahoo.co.id
Showing posts with label Comedy. Show all posts

Review (500) Days Of Summer (2009)


”I love her smile. I love her hair. I love her knees. I love how she licks her lips before she talks. I love her heart-shaped birthmark on her neck. I love it when she sleeps“- Tom
 
Ini adalah (bukan) kisah cinta seorang pria dan seorang wanita. Sang pria adalah Tom Hansen (Joseph Gordon-Levitt), seorang yang bercita-cita menjadi arsitek namun kenyataanya ia malah terdampar menjadi penulis kartu ucapan. Sejak kecil Tom tumbuh dengan memegang teguh kepercayaannya bahwa ia tidak akan pernah bisa hidup bahagia sampai ia bertemu dengan belahan jiwanya. Sebaliknya, sang wanita, Summer Finn (Zooey Deschanel) sama sekali tidak percaya apa itu cinta, semuanya itu tidak terlepas karena efek besar perceraian orangtuanya disaat ia kecil. Jadi bagi Summer Finn tidak ada dalam kamusnya istilah “pacar” atau “komitmen”. Baginya hubungan yang ia jalani dengan pria2 selama ini hanyalah hubungan pertemanan biasa yang dapat dengan mudah dan tanpa perasaan bersalah sedikitpun dapat ia ‘cut’ kapan saja, seperti tanpa perasaan menyesal sedikitpun disaat ia memotong rambut hitam panjangya yang indah itu.

Pada tanggal 8 Januari di musim semi yang indah, Tom akhirnya bertemu dengan Summer yang kebetulan bekerja sebagai asisten bosnya, dan pada saat itulah ia merasa bahwa Summer adalah wanita yang selama ini ia cari. Dan pada saat itu juga dimulailah a story of boy meets girl, but you should know upfront, this is not a love story. Semenjak kemunculan Annie Hall, High Fidelity, dan Eternal Sunshine of the Spotless Mind praktis tidak ada lagi film-film komedi romantis yang mampu tampil unik, segar dan berkualitas sekaligus mampu memberikan efek begitu besar kepada para penontonnya. Dan pada tahun 2009 lalu kehadiran (500) Days of Summer membuat semuanya berubah. Ya, kehadiran drama indie romantis satu ini benar-benar mampu menjadi sebuah kejutan besar yang menyengangkan karena berhasil mendapatkan tanggapan sangat postif baik dari para kritikus dunia maupun para penonton biasa. Bukan hanya sukses secara kualitas, film yang didistribusikan oleh Fox Searchlight Pictures ini pun berhasil meraup keuntungan yang sangat besar, dengan ‘hanya’ bermodalkan 7,500,000 juta dollar, film ini mampu meghasilkan pendapatan nyaris 10x lipatnya.

Kesuksesan yang berhasil di capai oleh (500) Days of Summer tidak lepas dari aroma indie kental yang menyelimutinya, terlihat dari bagaimana Webb berhasil mempresentasikan film ini dengan tampilan dan editing2 nya yang kreatif, tidak lazim, penuh kebebasan sekaligus indah. Pengunaan gaya naratif disertai plot nonlinear juga menjadi daya tarik dan nilai plus tersendiri yang membuat segalanya menjadi tampak berbeda dan berkelas. Tampaknya gaya Webb dalam menggarap video klip sangat berpengaruh besar membentuk ‘wujud’ ‘(500) Days of Summer ini.

tentu tidak terlepas dari jasa 3 orang hebat yang berdiri di balik layar. Ya tanpa kejeniusan Mark Webb, Scott Neustadter dan Michael H. Weber tentu saja tidak mungkin film ini bisa tampil sebaik ini. Sebagai seorang sutradara spesialis video klip, Mark Webb di debut film layar lebar pertamanya ini mampu menyuguhkan semangat Jika Webb sukses membentuk ‘wujud’ film ini, Scott Neustadter dan Michael H. Weber yang bertugas sebagai penulis naskah pun tidak ketinggalan mengisi ‘jiwa’ film dengan manyajikan kisah percintaan dan romantisme yang bisa dibilang ‘akrab’, khususnya bagi para penonton pria. Bisa dibilang hampir semua pria pernah merasakan pengalaman bagaimana indahnya jatuh cinta, bagaimana pahitnya di putus oleh kekasih, bagaimana rasanya menjalani hari-hari penuh penderitaan tanpa kehadiran si dia, dan bagaimana jika wanita yang kita taksir selama ini ternyata hanya menganggap hubungan yang selama ini dibangun hanya sebatas sahabat, walaupun tindakannya sendiri terkadang melebihi dari seorang sahabat. Semua konflik-konflik tersebut mampu dihadirkan dengan dialog-dialog segar dan fun bahkan tidak jarang membuat kita tersenyum atau mungkin tertawa lepas melihat bagaimana hubungan tidak wajar Tom dan Summer yang berlangsung selama 500 hari yang penuh suka duka tersebut.

Kredit plus juga pantas diberikan oleh kedua pemain utamanya. Baik, Joseph Gordon-Levitt maupun Zooey Deschanel tampaknya benar-benar sangat menikmati peran mereka disini sebagai pasangan TTM yang serasi. Meyenangkan memang melihat bagaimana kedua karakter ini berinteraksi satu sama lain apalagi dengan chemistry yang dibangun dengan sangat kuat. Walaupun bukan akting terbaik dari keduanya, namun tetap saja kedua aktor-aktris ini mampu mempesona penontonnya. Aroma indie juga tampak pada Soundtrack2nya yang keren dan emosional. Dengar saja bagaiman lagu “A Story of Boy Meets Girl” yang dibawakan Mychael Danna and Rob Simonsen dengan manis mengawali film ini sampai “She’s Got You High” dari Mumm-Ra menutup perjalanan kisah cinta Tom Hansen.

Overall, jangan terlalu percaya dengan narasi Richard McGonagle yang mengatakan bahwa (500) Days of Summer bukanlah sebuah kisah cinta, malahan bisa dibilang film ini adalah salah satu cerita cinta terbaik dan terkeren yang pernah dibuat oleh perfilman modern saat ini.


Rating
 

Review This Means War (2012)


”Don’t choose the better man, choose the man who makes you a better woman “ - Trish

Cinta segitiga itu memang sulit, apalagi kalau sang wanita ternyata di cintai oleh dua agen rahasia yang sama-sama tangguh dan tampan. Ya, kedua pria itu adalah FDR Foster (Chris Pine) dan  Tuck Henson (Tom Hardy), dua agen CIA  yang tanpa sengaja naksir pada wanita yang sama, Lauren Scott (Reese Witherspoon). Tentu saja apa yang terjadi kemudian adalah ‘perang’ untuk memenangkan hati Lauren, pertanyaannya tentu saja siapa yang kemudian akan memenangkan ‘perang’ ini?.

Ini memang mainan sutaradara Joseph McGinty Nichol atau biasa yang dikenal dengan McG. Ya, This Means War seperti Charlie’s Angels versi macho, semua tentang komedi berbalut spionase cepat ala McG yang tidak terlalu serius, tapi bedanya, kali ini ia mencoba memasukan bumbu romansa dan bromance di dalamnya, membiarkan Bane dan Kapten Kirk saling ‘bunuh’ untuk memperebutkan si blonde, Witherspoon. yang sudah terlihat terlalu tua untuk bermain di genre ini. Hasilnya? Tidak terlalu buruk, seperti kebanyakan romcom, This Means War ringan dan cukup menghibur walaupun pada kenyataannya ia sama bodohnya dengan lainnya, tidak peduli ada nama Simon Kinberg yang pernah menghasilkan naskah Sherlock Holmes 2009 lalu.

Jika Chris Pine dan Witherspoon terlihat nyaman memainkan perannya di sini, menarik melihat bagaimana aktor semaskulin Tom Hardy mencoba sesuatu yang belum pernah dilakukannya, menjadi lembut dan romantis dibalik wajah dan posturnya seriusnya sekaligus juga bertingkah konyol seperti ketika membiarkan Witherspoon menembakan peluru paintball ke selangkakangannyal. Chemistry bromance-nya dengan Pine mungkin tidak sedahsyat Mel Gibson dan Danny Glover, keduanya masih terlihat kikuk bersama, tapi yah, kolaborasi mereka, terlebih disaat keduanya saling menjatuhkan dan  mengolok kejantanan masing-masing harus diakui menjadi bagian paling menghibur ketimbang melihat porsi action-nya yang garing.

Lupakan Witherspoon yang tampak berusaha keras untuk mendapatakan kembali mahkotanya sebagai ratu romcom Hollywood, lupakan juga kombinasi spy dan romcomnya yang tidak bekerja dengan baik, This Means War sesungguhnya adalah tentang dua pria tampan bermata biru, Tom Hardy dan Chris Pine dan bagaimana usaha keduanya untuk saling menjatuhkan satu sama lain dengan cara yang konyol-menghibur.


Rating
 

Review Silver Linings Playbook (2012)




Pat: ” The only way to beat my crazy was by doing something even crazier. Thank you. I love you. I knew it from the moment I saw you. I’m sorry it took me so long to catch up.“
Setelah komedi perang Three Kings, hidup David O. Russell menjadi tidak pernah mudah lagi. Perlahan namun pasti ia seperti mulai menemui ajalnya bersama  film-filmnya yang tidak terlalu bagus. Lalu keajaiban datang 2010 lalu ketika The Fighter menyelamatkan kariernya, tidak hanya itu, drama biopik tinju tentang dua bersaudara Micky Ward dan Dicky Eklund itu sukses diganjar berbagai penghargaan bergengsi, termasuk nominasi Oscar untuk film terbaik hingga dua piala emas untuk dua pemeran pembantu terbaik (Christian Bale dan Melissa Leo) dan menjadikan dirinya kembali diperhitungkan sebagai salah satu sutradara elit Hollywood.

Jadi tidak usah terlalu heran jika kemudian Russell semakin percaya diri untuk kembali mempelebar sayapnya, membuat sesuatu yang sama, atau bahkan lebih baik kualitasnya dari The Fighter, seperti karya terbarunya ini misalnya, Silver Linings Playbook yang sempat berkibar di festival film Toronto tahun lalu dengan membawa pulang penghargaan “Audience Award”, bersanding dengan para pendahulunya yang pernah jaya macam Slumdog Millionaire dan The King’s Speech yang seperti kita ketahui sendiri nasibnya, keduanya mampu berbicara banyak  di ajang Oscar.

Isinya masih berputar di sekitar keluarga difungsional seperti yang pernah dihadirkannya dalam Flirting With The Disasater atau The Fighter, namun Sliver Linings Playbook terasa lebih santai, lebih intim, lebih cerdas, lebih kocak dan juga lebih indie ketimbang pendahulunya itu tanpa harus kehilangan bobotnya sebagai sebuah romcom satir yang berisi banyak jiwa-jiwa tersesat nan kompleks. Naskahnya diadaptasi sendiri oleh Russell dari novel milik Matthew Quick setelah sebelumnya almarhum Sideny Pollack yang membeli hak cipta novelnya dan memberikan kepada Russell jauh sebelum The Fighter ada.



Para pemilik jiwa tersesat itu adalah Pat Solitano (Bradley Cooper), mantan guru, penderita ganguan mood (bipolar disorder) yang baru saja dilepas dari sebuah panti rehabilitasi setelah delapan bulan lalu ia ‘meledak’ karena menemukan istrinya berselingkuh dengan guru sejarahnya. Lalu ada Tiffany Maxwell (Jennifer Lawrence), janda muda cantik pecandu seks yang rapuh paska kehilangan suami tercintanya dalam sebuah kecelakaan lalu lintas. Apa yang terjadi kemudian adalah bagaimana dua manusia ‘sakit’ ini saling menyembuhkan satu sama lain dengan cara-cara mereka yang terkadang ganjil.

Rahasianya adalah bagaimana Russell menyeimbangkan semuanya; Karakter-karakter menarik berjiwa rapuh yang gemar berteriak teriak satu sama lain, termasuk karakter pendukung ayah Pat, Patrizio penderita OCD akut yang diperankan Robert De Niro, tema pencarian cinta sejati, komedi dalam balutan dialog-dialog kuat, obesesi berlebihan terhadap American Football dan sedikit kompetisi dansya yang konyol. Ya, itu adalah bahan-bahan yang sebenarnya sulit untuk dijual, namun di sinilah kehebatan Russell yang juga punya pengalaman pribadi soal masalah bipolar dalam diri anak kandungnya.


Dan kamu tahu, ia melakukan pekerjaan luar biasa dalam usahanya untuk menghasikan sebuah drama tentang kejiwaan yang punya konflik tidak terlalu berat degan kombinasi komedi cerdas yang tidak pernah menjadi murahan serta sebuah romansa manis yang tidak terlalu cheesy (yah, mungkin sedikit di endingnya) plus dukungan cast-nya yang tampil luar biasa (Bradley Cooper dan Jennifer Lawrence punya chemistry dan kegilaan yang hebat, dan keduanya juga masuk nominasi Oscar tahun ini, bahkan Lawrence sendiri sudah menang terlebih dahulu dalam ajang Gloden Globe  sebagai aktris terbaik untuk kategori film komedi dan musikal) dengan beberapa momen berkesan di dalamnya di dalamnya.

Ya, Silver Linings Playbook, sebuah romcom adaptasi pahit manis yang punya banyak kekuatan besar di dalamnya; naskah dan penyutradaraan solid dari David O. Russell, bagaimana kepiwaiannya menggabungkan semua tema kegilaan, studi karakter, romansa dan komedinya menjadi sebuah sinergi kuat yang akan ‘menjebakmu’ dalam kurang lebih dua jam durasinya bersama penampilan para cast-nya yang ciamik. Mungkin akhirnya terasa terlalu manis dan klise, namun yang terpenting adalah bagaimana proses menuju akhirnya, dan itu sangat bagus!

Rating: ★★★★★★★★☆☆