phone: +6281254509366
e-mail: rizki_apriady46@yahoo.co.id
Showing posts with label Action. Show all posts

Review Iron Man 3 (2013)


Lima tahun lalu, bagi non fan boy seperti saya Iron Man mungkin hanya sekedar ‘manusia kaleng’, bukan siapa-siapa jika kamu mau membandingkannya dengan Spider-Man dan dua jagoan DC Comic; Batman dan Superman bahkan Hulk sekalipun, tetapi coba lihat sekarang?! Iron Man menjelma menjadi salah satu superhero yang paling diperhitungkan, terlebih ketika Marvel Studios memutuskan untuk menghadirkan versi live action-nya 2008 lalu, hasilnya; Dua seri, 1, 5 milliar Dolllar dan salah satu casting tebaik dalam dunia per-superhero-an setelah Christopher Reeves dan Superman-nya dalam diri Robert Downey Jr sebagai billiuner, playboy, genius, dermawan berbaju zirah super; Tony Stark.

Iron Man 3 sendiri adalah sebuah evolusi, baik di dalam maupun di luar layar paska sekuel pertamanya dan The Avengers, sebuah awal baru buat proyek Marvel Phase 2. Kali ini ada Shane Black penulis action hit Lethal Weapon dan sutradara Kiss Kiss Bang Bang mengambil tongkat estafet pernyurtradaraan yang ditinggal Jhon Favreau yang tampaknya memilih untuk tampil lebih santai sebagai eksekutif produser dan juga melanjutkan karakternya sebagai Happy Hogan. Lalu naskahnya yang ditulis Black bersama Drew Pearce punya potensi menjadi lebih jauh besar dari dua seri pendahulunya apalagi ketika keduanya mengadaptasinya dari salah satu versi terbaik komiknya; Extremis, termasuk memasukan salah satu musuh terbesar Iron Man; The Mandarin yang punya kekuatan super pada kesepuluh cicin saktinya

Jika film pertamanya adalah tentang bagaimana semuanya bermula dan Tony Stark menemukan siapa dirinya, lalu film keduanya adalah ketika ia menerima kehadiran orang lain dalam hidupnya dan sikapnya terhadap warisan masa lalunya dan kemudian melawan egonya di antara para superhero lainnya dalam The Avengers maka Iron Man 3 mencoba menghadirkan pendewasaan Stark, terutama ketika ia kembali lagi harus berjuang sendiri paska serangan alien di New York, tanpa bantuan S.H.I.E.L.D dan rekan Avengers-nya dalam menghadapi bahaya baru dalam bentuk virus nano-tech mengerikan buatan ilmuwan kejam Aldrich Killian (Guy Pearce) yang pernah dicampakan Stark 13 tahun lalu plus kehadiran teroris sekaligus supervillain tangguh, The Mandarin (Ben Kingsley) yang seperti kita lihat dalam trailer-nya sanggup meluluhlantakan Stark Mansion beserta armor-armor bajanya.

Meskipun kini ditangani Black namun sebenarnya ia tidak pernah mencoba pergi terlalu jauh dari apa yang diwariskan Favreau di dua seri sebelumnya serta tanpa kehilangan momen paska The Avengers. Fokusnya masih dan akan selalu berada pada pundak Tony Stark yang kini kembali menghadapi masalah terbesar; dirinya sendiri dengan segala kecemasan, kegelisahan, susah tidur dan serangan panik paska serangan Chitauri di New York. Masih ada elemen spionase, teknologi canggih dan manuver-manuver cantik di udara meskipun harus diakui paska kehadiran Pepper Potts yang kini mendiami rumahnya membuat Stark kehilangan sentuhan playboy-nya, namun sekali lagi ini tetap adalah sajian Iron Man khas Favreau yang mengasyikan.

Setengah jam pertamanya memang lambat panas, tetapi pesona Robert Downey yang galau dan penampakan sangar Kingsley plus momen hancurnya kediam Stark sedikit banyak membantu melewati masa-masa ‘sulit’ itu. Lalu setelah itu munculah malapetaka itu. Entah apa yang dipikirkan Black dan Pearce ketika menghadirkan sebuah twist yang menjungkir balikan ekpektasi banyak orang, baik fan boys atau tidak. Ya, itu adalah kejutan yang sangat konyol jika tidak mau disebut dengan kebodohan luar biasa, membuang percuma salah satu talenta terbesar yang sebenarnya sangat berpotensi membawa Iron Man 3  menjadi jauh lebih dahsyat. Akibatnya cukup signifikan, tidak peduli seberapa banyak armor-armor yang kemudian dikeluarkan Black sebagai ‘hadiah natal dan hingar bingar action sekuens yang menggetarkan di penghujungnya, jujur saja saya sudah terlanjur ilfil akibat blunder yang dibuatnya.

Robert Downey tentu saja kembali menjadi magnet terbesar franchise ini, tidak ada lagi orang yang mampu menggantikannya membawakan karkater Tony Stark-nya yang memesona itu. Sementara nama-nama lama seperti Don Cheadle kembali hadir, kali ini sebagai Iron Patriot (versi cat bendera Amerika dari War Machine), John Favreau yang sempat mencuri perhatian di awal film dan Gwyneth Paltrow yang kebagian porsi paling keren di sini setelah di dua filmnya ia hanya tampil sebagai pemanis. Lalu ada nama-nama baru, selain Ben Kingsley ada Guy Pearce dan Rebecca Hall yang sayangnya tidak mendapat porsi signifikan di sini.

Ditujukan sebagai pembuka fase kedua Marvel, Iron Man 3 sedikit lebih baik dari sekuel pertamanya yang tampil buruk dengan villain yang terlalu cepat kalah dan cerita yang konyol. Shane Black jelas tahu benar bagaimana melanjutkan warisan Iron Man yang ditinggalkan Favreau.  Ini seharunya bisa menjadi  bagian terbaik dari semua serinya sayang ‘kejutan’ di pertengahan film merusak mood-nya yang sebenarnya sudah dibangun Black dengan baik sejak awal.


Rating
 

Review G.I. Joe: Retaliation (2013)


Tidak ada lagi Stephen Sommers, Joseph Gordon-Levitt, Sienna Miller, Marlon Wayans dan Channing Tatum, eh, maaf, masih ada Tatum. Tetapi secara garis besar ini masih adaptasi salah satu franchise mainan (baca: action figure) laris Hasbro yang sama; hingar bingar CGI, pertempuran hi-tech dahsyat, duel maut dua ninja hebat dengan balutan tema “kebaikan melawan kejahatan” serta patriotisme modern yang dangkal. Jadi setelah sempat mengalami pengunduran jadwal tayang selama kurang lebih setahun untuk memantapkan versi 3D-nya dan promosi internasional maka  sabutlah G.I. Joe: Retaliation, sekuel sci-fi action dari G.I. Joe: The Rise of Cobra yang sempat merajai box office 2009 lalu.

Jadi dengan pendapatan yang melebihi 300 juta Dollar di film pertamanya tentu saja membuat para petinggi Paramount menjadi silau mata. Beberapa usaha dilakukan untuk membuat Retalition menjadi lebih memikat, Selain mempertahankan nama-nama lama seperti Channing Tatum, Arnold Vosloo, Ray Park, Jonathan Pryce, dan mega star Korea Selatan, Lee Byung-hun, studio berlambang gunung ini juga  menggelontorkan lebih banyak uang untuk biaya produksi, membuatnya dalam format 3D yang sepertinya menjadi sebuah kewajiban dan er.. mengganti posisi ‘komandannya’ kepada Jon M. Chu (Step Up 3D) juga menunjuk hidung Dwyne “The Rock” Johnson sebagai karakter sentral barunya, menggantikan Tatum yang “dibebas tugaskan” setelah 20 menit film berlangsung serta salah satu magnet action terbesar, Bruce Willis sebagai General Joseph Colton yang tampil di setengah jam terakhir.

Ya, ini masih G.I Joe yang sama dengan 4 tahun meskipun naskah garapan duet penulis Zombieland,  Rhett Reese dan Paul Wernick terlihat sedikit lebih baik ketimbang Rise of The Cobra dengan segala konflik-konflik berbau pengkhinatan, kudet dan pembalasan dendam seperti judulnya, “Retaliation”, namun secera keseluruhan formatnya tidak lebih jauh dari sebuah sajian aksi berisik tanpa otak dengan CGI mahal. Kisahnya? Masih melanjutkan cerita dari Rise of The Cobra. Paska ditekuknya Cobra Commander (Luke Bracey dan dialih suarakan oleh Robert Baker), para pasukan elit Amerika G.I Joe tetap meneruskan tugas mereka untuk melindungi negaranya. Namun misi terkahir mereka berakhir buruk. Diserang mendadak oleh pemerintahnya sendiri yang diperintahkan langsung oleh sang presiden mereka yang tampaknya sedang gila, nyaris menghabisi pasukan Joe dan hanya menyiskan Marvin F. Hinton a.k.a Roadblock (Dwayne Johnson), Flint (D.J. Cotrona), Jaye Burnett a.k.a Lady Jaye (Adrianne Palicki) dan Snake Eye (Ray Park). Sementara di tempat lain para anggota Cobra; Strom Shadow (Lee Byung-hun) dan Firefly (Ray Stevenson ) juga sedang sibuk untuk membebaskan pimpinan mereka yang ditahan di penjara berpenjagaan maksimum.

Rise the Cobra tidak banyak meninggalkan kenangan buat saya, adegan yang saya ingat hanya menara Eiffel yang rontok karena digerogoti oleh nanomites hijau dan Retaliation tampaknya juga punya nasib yang tidak terlalu berbeda dengan pradesesornya itu. Ini adalah jenis action menyenangkan untuk ditonton dengan segala narasinya yang ringan, komedi yang pas tapi tidak pernah kuat untuk meninggalkan kesan dan bercokol lama diingatan penontonnya.

Ya, rangkaian adegan aksinya memang keren dan juga bodoh, bahkan di menit-menit pertama saja kita sudah disugguhkan momen-momen penyergapan seru, dan Chu juga tampaknya tidak pernah menocoba untuk mengendurkan tensinya termasuk meyuuguhkan salah satu scene paling ditunggu para fansnya; pertarungan antara Snake Eyes dan rival abadinya Strom Shadow berlanjut pada baku hantam spektakuler di penggungan Himalaya, hingga akhirnya sebuah klimaks klise bersama Bruce Wills kemudian menutup aksi heroik nan klise.

Dari beberapa review yang ada banyak fans yang menunjukan kekecewaannya terhadap sekuel terbaru G.I Joe ini. Tetapi beruntung saya bukan salah satu penggemar mainan ini jadi imbasnya saya cukup menikmati setiap menit yang dihadirkan Chu. Ya, Retelation memang tidak jauh berbeda dengan pendahulunya, sama-sama menyajikan sebuah pop corn movie tanpa otak berisik yang disaat bersamaan akan memanjakan matamu dengan format 3D-nya. Efeknya tentu mengasyikan buat penonton awam seperti saya yang tidak berharap macam-macam, toh Rise of The Cobra sudah memberi saya banyak gambaran yang pada akhirnya memang tidak berbeda jauh dengan yang satu ini.


Rating
 

Review Oblivion (2013)


Tidak semua filmaker punya kesempatan melakukan ini; Membawa graphic novel-nya sendiri yang bahkan belum dipublikasikan ke layar lebar, tetapi beruntung bagi sutradara Tron: Legacy, Joseph Kosinski yang diberi kepercayaan penuh oleh para petinggi Universal Pictures untuk melakukannya, tidak hanya itu, mereka juga memberikan Konsinski dana sebesar 120 Juta Dollar, nama-nama besar macam Morgan Freeman,  Olga Kurylenko, bahkan seorang Tom Cruise yang nontabene seperti yang kita tahu adalah magnet box-office tidak peduli apapun genre yang dibintangi mantan suami Katie Holmes itu.

Jadi ini yang terjadi di Oblivion; Bersetting di bumi pada tahun 2077 yang nyaris hancur akibat peperangan dengan mahlkuk asing 60 tahun lalu. Hampir semua manusia dievakusasi ke Titan; Salah satu bulan di Saturnus, dan hanya menyisakan Jack Harper (Tom Cruise) dan rekannya, Victoria (Andrea Riseborough) yang bertugas untuk mengawasi proses ekstraksi sumber daya bumi yang tersisa dari gangguan Scavenger (begitu mereka menyebut alien yang menyerbu bumi) yang masih ada, termasuk memperbaiki dan merawat drone (robot terbang) penjaga. Yang terjadi kemudian adalah rentetan peristiwa aneh,  puncaknya ketika ia menyelamatkan seorang wanita misterius, Julia (Olga Kurylenko) yang sekaligus mulai membuka mata Jack tentang apa yang sebenarnya terjadi.

Sebenarnya tidak ada yang baru di Oblivion, kalau kamu kebetulan adalah penggemar film-film sci-fi kemungkinan sudah pernah melihat semuanya; Masa depan, bumi hancur, invasi alien, astronot kesepian, tidur panjang, teknologi canggih dalam balutan efek CGI yang mentereng. Ya, apa yang coba dihadirkan Konsinski seperti mencomot ide-ide dari banyak film fiksi ilmiah, bahkan twist dipertengahan film dan klimaksnya, mulai dari yang paling legendaris seperti 2001: A Space Odyssey dan Alien sampai yang modern seperti Independence Day, Wall. E, Prometheus sampai sci-fi indie, Moon. Tetapi tidak peduli seberapapun seringnya ide-ide itu kembali dimunculkan anehnya, kita tidak pernah bosan untuk melahapnya dan Konsinski jelas tahu benar soal itu, jadi ketika ia melakukan peremajaan ide-ide lama ke dalam sebuah wadah baru, tetap saja Oblivion punya daya tarik tersendiri apalagi dengan sosok Tom Cruise berdiri seorang diri dengan latar belakang bumi yang hancur di posternya itu.

Beruntung jika kamu hanya sedikit tahu soal referensi film-film fiksi ilmiah yang sudah saya sebutkan di atas karena Oblivion akan memberikanmu sebuah tontonan yang terasa lebih mengasyikan. Di separuh pertamanya Konsiski memulainya dengan lambat, memfokuskan semuanya pada karkater yang dimainkan Tom Cruise dan pasangannya, Andrea Riseborough, menjelajahi Manhattan yang hancur lebur paska perang besar bersama kendaraan terbang Jack yang canggih dalam balutan visual dan sinematografi cantik dari kamera Sony CineAlta F65 terbaru Claudio Miranda, sinematografer handal yang baru saja memenangkan Oscar dalam Life of Pi.

Sedikit terlalu panjang dan berpotensi membosankan sebelum sebuah twist dipertengahan nanti kembali mencengkeramu, menjungkir balikan segalanya. Bukan twist yang baru memang tetapi tetap saja hal tersebut menjadikan Oblivion menjadi semakin menarik, terlebih ketika semua misterinya perlahan-lahan mulai terungkap dan tensinya bersama banyak adegan aksinya mulai meningkat hingga nantinya ditutup dengan sebuah ending yang familiar jika kamu pernah menonton film-film sci-fi yang saya sebutkan di atas sana.

Yah, mungkin bukan sci-fi paling orisinil yang pernah kamu tonton dengan segala ‘pinjaman’ ide sana-sini, tetapi meskipun basi,  premis tentang kehancuran bumi dan invasi alien plus pesona Tom Cruise yang masih bertaji itu sudah lebih dari cukup untuk menjadi sebuah kombinasi yang susah untuk ditolak, terlebih sutradaranya, Joseph Kosinski tahu benar bagaimana menghadirkannya dengan balutan teknis yang baik.

Rating
 

Review Thor (2011)


“The god of thunder. The king of Asgard. The god of mischief. The guardian of worlds. The goddess of war. The woman of science“

“And you are an old man and a fool!” begitulah pekik angkuh Thor (Chris Hemsworth) kepada Odin (Anthony Hopkins), ayahnya yang langsung membuat penguasa tertinggi Asgard itu geram luar biasa, bukan hanya karena Thor menghina dan tidak mematuhi dirinya sebagai ayah dan Raja, namun juga karena  kesombongan dan perbuatan lancang putranya itu yang kemudian memicu kembali perang lama dengan kaum Frost Giants dari dunia Jotunheim . Dan apa yang terjadi kemudian, tidak hanya melepaskan segala kekuatan kedewaannya, Odin pun membuang  Thor ke bumi termasuk melucuti Mjolnir- palu sakti dari tangannya sebagai  hukuman setimpal atas segala perbuatannya itu.

Di bumi, Thor bertemu dengan astrophysicist cantik,  Jane Foster (Natalie Portman) yang kemudian menolongnya untuk memulai fase barunya sebagai manusia biasa dan mencari arti  tentang hidup serta bersikap sebagai ksatria sejati guna memperoleh kekuatannya kembali- dan Mjolnir tentunya. Sementara itu di Asgard, adik laki-lakinya yang licik, Loki (Tom Hiddleston) merencanakan rencana jahat buat Asgard dan juga bumi kita.

Thor, untuk ukuran seorang pahlawan super pamor dewa guntur ini mungkin tidak setenar pahlawan-pahlawan Marvel Comics lain macam Spiderman, Hulk, Iron Man maupun X-Men. Ironis memang, padahal dari segi kekuatan Thor jelas jauh lebih dahsyat dari si manusia laba-laba, ilmuwan hijau pemarah, miliyuner hedon dengan baju besinya, atau kumpulan para manusia mutan, tapi karena ia adalah refleksi alternatif dari sebuah mitologi kuno kaum Norse yang jauh dari bayangan akan sosok superhero ideal, maka tidak terlalu heran jika Thor menjadi kurang populer. Tapi tunggu dulu, pihak Marvel dan Paramount rupanya masih percaya bahwa superhero mereka satu ini masih memiliki daya magis untuk tetap dinanti oleh para penontonnya, baik oleh die hard fans-nya sendiri atau sekedar penikmat film awam seperti saya, bukan hanya dikarenakan film ini menawarkan sebuah paket hiburan superhero yang menarik seperti koleganya- setidaknya melihat dari trailernya yang keren itu, namun yang terpenting juga karena ini  menjadi kepingan puzzle lain untuk  melengkapi proyek besar nan ambisus Marvel Studios, The Avengers 2012 nanti.

Ok, mari kita membahas bagaimana sepak terjang anak dewa Norse yang rupanya berhasil digarap memukau oleh sutradara sekaligus aktor, Kenneth Branagh. Ya, Branagh sukses menampik segala keraguan yang dialamatkan kepadanya sebelumnya dengan menghadirkan Thor sebagai sebuah sajian superhero yang tidak hanya terlihat megah-menawan secara fisik namun juga  mengasyikan dan enjoyable dalam prosesnya bercerita, terlebih disaat Branangh mampu menerjemahkan naskah yang ditulis trio Ashley Edward, MillerZack dan StentzDon Payne dengan sangat baik, mengawinkan segala pesona pahlawan super dengan segala efek cantikya, mitologi kuno, dan juga Shakespeare dalam satu kesatuan utuh, seperti melihat Hamlet versi ringan dalam wujud manusia super, membuat Thor terasa lebih meyengarkan ketimbang kisah-kisah superhero lainnya.

Aksi, spesial efek, romansa, sedikit komedi serta pertarungan kebaikan melawan kejahatan, Ya, Branagh sepertinya tahu benar memasukan setiap elemen dalam setiap kisah superhero yang ada untuk membentuk Thor dengan segala kemagisannya. Lihat saja bagaimana Asgard yang disajikan begitu cantik dan begitu menawan dengan tata artistik yang jempolan serta warna-warni cemerlang. Menggabungkan cita rasa kuno dan modern seperti yang terlihat pada setiap bangunan kota para Dewa itu termasuk interior sampai kostum-kostum mengkilat yang dikenakan para pejuangnya. Rangkaian Momen aksinya yang seru pun tidak ketinggalan memenuhi durasinya yang mencapai hampir dua jam, dari pertarungan Thor bersama teman-teman setianya di Jotunheim yang dingin itu sampai adegan penghancuran total di sebuah kota di New Mexico oleh The Destroyer di akhir cerita.

Menunjuk aktor kurang terkenal Chris Hemsworth untuk didapuk menjadi sang Dewa Petir bisa jadi adalah perjudian yang berbuah manis. Jujur saja ini adalah sebuah keputusan tepat saya menyukai penampilan Hemsworth  disini, terlepas dari segi fisiknya yang memang pas memerankan sosok Thor dengan modal postur tinggi besarnya, rambut dan janggut keemasan yang menghiasi wajah manisnya, aktor yang sempat berperan sebagai George Kirk – ayah kapten Kirk dalam reboot Star Trek arahan J.J Abrams ini memang sukses mengambil simpati penontonnya dengan segala sifat keangkuhannya sebagai anak Dewa dan tingkah laku komikalnya sebagai manusia biasa.

Untuk pemeran pendukung lainnya sepertinya juga tidak ada masalah berarti. Memasang aktor senior sekelas Anthony Hopkins dengan segala kharisma hebatnya sebagai Odin terbukti berhasil menghadirkan sosok Raja para dewa yang berwibawa. Natalie Portman sebagai Jane Foster, love interst Thor pun masih menawarkan kencantikannya yang tidak hanya mampu mempesona dewa Norse namun juga para penontonnya. Bahkan karakter Heimdall yang dibawakan Idris Alba pun masih memiliki porsi menarik tersendiri sebagai Heimdalll, penjaga gerbang bifröst. Mungkin hanya Kat Dennings yang membawakan Darcy Lewis menjadi satu-satunya peran yang sama sekali tidak penting, kecuali disaat ia menyetrum Thor sampai pingsan di awal-awal cerita sebelum ia sempat memperkenalkan siapa dirinya, ya, adegan itu memang menghibur.

Bukan film superhero terbaik yang pernah saya tonton memang, tapi dengan segala kombinasi kemagisan mitologi kunonya, aksi seru yang mengasyikan, spesial efek cantik, naskah menarik plus balutan eksekusi cepat nan memukau,  Thor jelas dengan mudah dapat memenangi hati penontonnya seperti disaai ia juga dengan mudah memenangi hati Jane Foster untuk menjadi sebuah sugguhan action superhero flick  renyah dan menghibur. Well Done Kenneth Branagh, well done!.


Rating
 

Review This Means War (2012)


”Don’t choose the better man, choose the man who makes you a better woman “ - Trish

Cinta segitiga itu memang sulit, apalagi kalau sang wanita ternyata di cintai oleh dua agen rahasia yang sama-sama tangguh dan tampan. Ya, kedua pria itu adalah FDR Foster (Chris Pine) dan  Tuck Henson (Tom Hardy), dua agen CIA  yang tanpa sengaja naksir pada wanita yang sama, Lauren Scott (Reese Witherspoon). Tentu saja apa yang terjadi kemudian adalah ‘perang’ untuk memenangkan hati Lauren, pertanyaannya tentu saja siapa yang kemudian akan memenangkan ‘perang’ ini?.

Ini memang mainan sutaradara Joseph McGinty Nichol atau biasa yang dikenal dengan McG. Ya, This Means War seperti Charlie’s Angels versi macho, semua tentang komedi berbalut spionase cepat ala McG yang tidak terlalu serius, tapi bedanya, kali ini ia mencoba memasukan bumbu romansa dan bromance di dalamnya, membiarkan Bane dan Kapten Kirk saling ‘bunuh’ untuk memperebutkan si blonde, Witherspoon. yang sudah terlihat terlalu tua untuk bermain di genre ini. Hasilnya? Tidak terlalu buruk, seperti kebanyakan romcom, This Means War ringan dan cukup menghibur walaupun pada kenyataannya ia sama bodohnya dengan lainnya, tidak peduli ada nama Simon Kinberg yang pernah menghasilkan naskah Sherlock Holmes 2009 lalu.

Jika Chris Pine dan Witherspoon terlihat nyaman memainkan perannya di sini, menarik melihat bagaimana aktor semaskulin Tom Hardy mencoba sesuatu yang belum pernah dilakukannya, menjadi lembut dan romantis dibalik wajah dan posturnya seriusnya sekaligus juga bertingkah konyol seperti ketika membiarkan Witherspoon menembakan peluru paintball ke selangkakangannyal. Chemistry bromance-nya dengan Pine mungkin tidak sedahsyat Mel Gibson dan Danny Glover, keduanya masih terlihat kikuk bersama, tapi yah, kolaborasi mereka, terlebih disaat keduanya saling menjatuhkan dan  mengolok kejantanan masing-masing harus diakui menjadi bagian paling menghibur ketimbang melihat porsi action-nya yang garing.

Lupakan Witherspoon yang tampak berusaha keras untuk mendapatakan kembali mahkotanya sebagai ratu romcom Hollywood, lupakan juga kombinasi spy dan romcomnya yang tidak bekerja dengan baik, This Means War sesungguhnya adalah tentang dua pria tampan bermata biru, Tom Hardy dan Chris Pine dan bagaimana usaha keduanya untuk saling menjatuhkan satu sama lain dengan cara yang konyol-menghibur.


Rating
 

Review The Dark Knight Rises (2012)


Review di bawah ini mengandung spoiler ringan. Dianjurkan untuk tidak membacanya sebelum menonton.

Saya kurang tahu kenapa, tapi ada sesuatu antara film superhero dengan trilogi. Seakan-akan, semua franchise superhero harus terhenti di seri ketiganya. Apa yang terjadi selanjutnya adalah antara prekuel atau reboot. Karya Nolan bukanlah pengecualian, walaupun apapun yang terjadi masih mungkin terjadi, The Dark Knight Rises adalah penutup dari trilogi Batman milik Nolan. Uniknya, seringkali, seri ketiga memiliki kualitas jauh di bawah predecessor-nya (ambil contoh trilogi Spider-Man, X-Men, atau Blade) mengakibatkan kenangan pahit lebih mudah diingat ketimbang manis yang telah dihasilkan. Saya cukup lega bahwa The Dark Knight Rises (TDKR) tidak menderita sindrom serupa, bahkan TDKR adalah kado termanis yang bisa Nolan berikan untuk penutup trilogi superhero terbaik sepanjang masa ini.

4 tahun sudah berlalu sejak rilisnya The Dark Knight, film yang merubah semua standard film superhero. Thanks to Heath Ledger’s posthumous oscar winning performance, harapan untuk sekuelnya melambung tinggi. Nolan yang awalnya memasukkan Heath sebagai bagian dari rencananya untuk film ketiga harus mengulang lagi dari awal, saat kematian menyambut aktor muda berbakat tersebut. Nolan sempat tidak ingin melanjutkan ceritanya, tapi ketika akhirnya ia mendapatkan skrip yang menurutnya setara dengan TDK,  jadilah TDKR ini.

TDKR mengambil waktu 8 tahun setelah kejadian di TDK. Batman (Christian Bale) menanggung semua kesalahan milik Harvey Dent, kini ia menjadi incaran para polisi satu kota. Gotham pun sedang berada dalam masa tenangnya, Batman yang berada dalam pelarian dan sedang tidak dibutuhkan memilih untuk bersembunyi. Bersamanya, dibawa pula Bruce Wayne, yang ikut menghilang selama 8 tahun. Namun kehadiran Bane (Tom Hardy) ke Gotham membuat semuanya berubah. Batman harus kembali, atau setidaknya itu yang Jim Gordon  (Gary Oldman) inginkan. Batman pun akhirnya kembali keluar, tapi ternyata semuanya tidak semudah itu. Apalagi Bane benar-benar menguji Bruce Wayne baik dari mental maupun fisiknya. Ditambah bumbu karakter baru seperti John Blake (Joseph Gordon-Levitt), Selina Kyle/Catwoman (Anne Hathaway), Miranda Tate (Marion Cotillard) dan beberapa lainnya, The Dark Knight Rises adalah film superhero dengan tingkat kompleksitas cerita paling tinggi dibanding film sejenisnya.

Rumit tidak selamanya baik, malah bisa menjadi boomerang. Saya harus setuju, The Dark Knight Rises sedikit over-plotted, walaupun pada akhirnya semuanya berperan penting, tapi hal itu sebenarnya bisa dikurangi. Selain over-plotted, TDKR juga memiliki terlalu banyak karakter baru. Namun hal ini masih bisa dimaafkan, mengingat jangka waktu 8 tahun pasti membuat banyak karakter baru penting muncul. Hampir sejam pertama, TDKR berusaha memperkenalkan satu-persatu orang-orang barunya sambil membangun sub-plotnya yang sebenarnya berujung pada cerita klasik superhero: Penjahat ingin menghancurkan, pahlawan ingin menyelamatkan. Selama 165 menit kisah tersebut dibawakan dengan cara yang berbeda, menarik, dan brilliant!

Berbicara soal bagian  akting, tidak ada satupun yang berhasil menyentuh Heath Ledger, tetapi saya sangat suka sekali dengan Bane versi Tom Hardy. Memang tidak berbadan sebesar di komiknya, tapi sangat bisa sekali dirasakan aura keperkasaan, mencekam dan keseramannya. Apalagi bila sudah berduel dengan Batman. Benar-benar lawan yang sepadan. Dan akhirnya ada juga pertarungan yang lumayan di seri Dark Knight ini. Christian Bale sendiri sebagai Batman relatif tampil lebih baik dari seri-seri sebelumnya, namun cenderung tertutup oleh cast sampingannya. Sedangkan Anne Hathaway sebagai Selina Kyle (tidak pernah disebut Catwoman selama di film) juga tampil meyakinkan tanpa harus merusak versi Michelle Pfeifer. Namun sebenarnya yang tampil terbaik menurut saya adalah Joseph Gordon-Levitt. Image galau di 500 DOS maupun 50/50 benar-benar hilang. JGL tampil sangat berbeda dan tangguh sekali di sini. Bila harus mencari kelemahan adalah Marion Cotillard yang karaternya benar-benar underdeveloped sekali dan sayangnya memegang peran penting pada ending cerita. Sedangkan karakter macam Foley dan Daggett benar-benar hanya berfungsi sebagai pemulus cerita saja tanpa meninggalkan kesan apapun. Berbanding terbalik dengan karakter-karakter kecil di The Dark Knight yang masih lebih memorable.

Dari segi teknis, The Dark Knight Rises adalah yang terbaik dari kakak-kakaknya. Dengan budget lebih besar, lebih banyak ledakan dan aksi-aksi di luar nalar. Seperti opening scenenya yang di-shoot di langit. Itu benar-benar gila. Belum lagi final fight yang benar-benar chaos dan seperti film perang. Tambahkan juga pesawat baru Batman, The Bat, yang bisa bermanuver sesuka hati. Dengan 50 menit film ini di-shoot menggunakan kamera IMAX, maka menontonnya di IMAX pun adalah kewajiban jika memungkinkan. Saya sendiri beruntung bisa menyaksikannya di IMAX, dan benar-benar gila. Scoring Hans Zimmer yang semua sepertinya berjudul “EPIC” mampu menggetarkan kursi studio berkali-kali. Beberapa kekurangan dari segi teknisnya mungkin adalah suara Bane yang masih kurang jelas dan terdengar seperti di-dubbing. Cukup mengganggu. Juga tempo film ini yang berubah-rubah. Pada awal film terasa sekali editing yang kasar dan lompat-lompat. Namun semua itu terbayar penuh di paruh kedua filmnya.

Pada akhirnya, The Dark Knight Rises adalah sebuah film penutup yang pas. Tidak lebih baik dari The Dark Knight, namun berhasil memberikan momen-momen di mana Anda akan merinding, ingin menangis, ingin lompat, dan lain-lainnya. Audiens di studio saya sampai bertepuk tangan 3x sepanjang film. Dan endingnya, oh, it’s the best you can have.


Rating:

Review Olympus Has Fallen (2013)

Oh. Berbicara mengenai nasionalisme/patriotisme, film arahan sutradara Antoine Fuqua (Brooklyn’s Finest, 2010) yang berjudul Olympus Has Fallen ini juga mengangkat tema penceritaan yang sama. Hanya saja, daripada menghadirkan kisah mengenai seorang pelajar sekolah dasar yang berusaha mewujudkan obsesi sang kakek mengenai bendera negaranya, Olympus Has Fallen mengisahkan mengenai seorang mantan agen rahasia Amerika Serikat yang berjuang dalam melawan aksi terorisme yang berusaha memecah keutuhan negaranya. Sendirian. Terdengar seperti kisah dari salah satu seri franchise Die Hard (1988 – 2013)? Tentu! Dan rasanya setiap orang akan begitu familiar dengan jalan cerita tersebut. Pun begitu, dengan arahan Fuqua yang kuat atas intensitas presentasi aksi dalam film ini serta penampilan apik dari seluruh jajaran pengisi departemen aktingnya, khususnya Gerard Butler, Olympus Has Fallen mampu menjelma menjadi sebuah film aksi yang dapat dengan mudah menarik dan menahan perhatian setiap penontonnya secara penuh dalam 120 menit pengisahan ceritanya.

Olympus Has Fallen dimulai dengan memperkenalkan karakter utamanya: seorang agen rahasia, Mike Banning (Butler), yang kini bertugas sebagai salah satu anggota kelompok pengamanan kepresidenan. Atas etos kerjanya yang dikenal sangat cemerlang, Mike bahkan telah mendapatkan kepercayaan yang kuat dari sang presiden, President Benjamin Asher (Aaron Eckhart), beserta keluarganya: sang istri, Margaret (Ashley Judd) serta puteranya, Connor (Finley Jacobsen). Sayang, tak semua sisi kehidupan keluarga sang presiden dapat ia amankan. Ketika suatu malam terjadi sebuah kecelakaan pada iringan mobil keluarga presiden, Mike mampu menyelamatkan sang presiden… namun gagal menyelamatkan istrinya yang berujung pada kematiannya.

Delapan belas bulan kemudian, akibat tidak mampu bertahan atas kenangan buruk tersebut, Mike kini telah dipindahtugaskan menjadi pegawai Departemen Keuangan Amerika Serikat – meskipun seringkali hatinya masih merindukan masa-masa tugasnya di Istana Negara Amerika Serikat, The White House. Suatu hari, ketika President Benjamin Asher sedang menjalani sebuah pertemuan politik dengan delegasi dari negara Korea Selatan, sebuah pesawat tempur berhasil memasuki wilayah terbang ibukota Amerika Serikat, Washington DC, dan mulai menjadikan setiap benda maupun manusia yang berada dalam jangkauannya sebagai sasaran tembak. Pesawat tempur tersebut ternyata hanyalah awal dari serangkaian serangan yang dilancarkan oleh sekelompok teroris yang ingin menjadikan The White House sebagai sasaran utama mereka. Mike Banning jelas tidak menerima begitu saja negara yang ia cintai diporak-porandakan oleh sebuah kekuatan asing. Ia lalu mulai menyusun rencana untuk kemudian melakukan serangan balik kepada para anggota teroris tersebut.

Walau naskah cerita yang dihasilkan oleh Creighton Rothenberger dan Katrin Benedikt sama sekali tidak menawarkan sesuatu yang baru kepada para penontonnya, namun Olympus Has Fallen jelas bukanlah sebuah presentasi yang buruk. Sebagian kesuksesan tersebut datang dari keberhasilan Antoine Fuqua untuk mengumpulkan jajaran pemeran yang memiliki kemampuan akting yang benar-benar memuaskan. Lihat bagaimana nama-nama seperti Aaron Eckhart, Morgan Freeman, Melissa Leo, Angela Bassett, Robert Forster bahkan Radha Mitchell mampu memberikan penampilan yang begitu mencuri perhatian meskipun porsi penceritaan karakter yang mereka perankan benar-benar terbatas.

Gerard Butler yang berada di garda terdepan departemen akting juga jelas tidak mengecewakan. Butler yang berperan pada sebuah film aksi jelas merupakan Butler yang berada pada elemen terbaiknya dan ia mampu mendalami karakter yang ia perankan dengan sempurna! Pujian yang sama juga dapat diberikan kepada Rick Yune yang memerankan karakter antagonis utama. Dengan wajah tampan dan tubuh atletisnya, Yune mampu menjelma menjadi sosok karakter yang memikat namun jelas sangat mematikan. Baik Butler dan Yune berhasil membuat karakter yang mereka perankan menjadi benar-benar tampil mengesankan – termasuk ketika kedua karakter tersebut akhirnya saling berhadapan.

Layaknya film-film sejenis, Olympus Has Fallen juga mampu tampil kuat di bagian presentasi cerita yang sama. Momen-momen emas film ini hadir ketika Fuqua menyajikan deretan adegan penuh kekerasan dan darah dalam menggambarkan aksi para teroris yang menyerbu masuk The White House. Fuqua mampu mempertahankan intensitas aksi di setiap bagian penceritaan tersebut dengan menghadirkan kualitas audio visual yang benar-benar akan mampu mempesona setiap penontonnya. Intensitas ketegangan di dalam jalan cerita film juga mampu terjaga ketika Fuqua menghadirkan beberapa adegan interogasi. Fuqua tahu benar tentang material yang sedang ia kerjakan – bahwa Olympus Has Fallen akan benar-benar mampu tampil kuat dengan eksplorasi yang tepat di sisi aksi ceritanya – dan adalah mudah untuk mengungkapkan bahwa Fuqua berhasil menggarap film ini menjadi sebuah sajian aksi yang sangat menghibur.

Di saat yang sama, Fuqua sayangnya gagal mencegah Olympus Has Fallen untuk tidak jatuh ke jebakan film-film sejenis. Ketika intensitas ketegangan cerita telah berhasil terbangun semenjak awal, Olympus Has Fallen mulai terasa bertele-tele dalam menyampaikan solusi permasalahannya. Kumpulan teroris dan kaki tangannya yang awalnya digambarkan begitu perfeksionis dalam melancarkan aksinya secara perlahan ditampilkan mulai menemui kelemahan – agar sang karakter utama dapat menjatuhkan mereka. Deretan dialog yang awalnya terkesan normal kemudian berubah menjadi semakin cheesy seiring dengan perjalanan durasi film ini. Pun begitu, dengan balutan adegan aksi yang telah disajikan Fuqua, rasanya tidak akan banyak suara sumbang yang mempermasalahkan kerikil-kerikil kecil yang hadir di sepanjang perjalanan film ini.

Olympus Has Fallen jelas bukanlah sebuah film yang akan banyak diingat oleh banyak orang lama setelah selesai menyaksikannya. Pun begitu, Antoine Fuqua berhasil menggarap film ini dengan baik sehingga memiliki kualitas yang berada di atas kualitas film-film sepantarannya. Bagian kesuksesan tersebut datang dari kemampuan Fuqua untuk mengendalikan ritme penceritaan film sehingga mampu menghadirkan intensitas ketegangan cerita yang begitu terjaga. Ditambah dengan apiknya tata produksi serta penampilan akting para jajaran pemeran film, Olympus Has Fallen berhasil menjelma menjadi sebuah presentasi aksi yang meskipun terkesan klise namun mampu tampil begitu menghibur di sepanjang pengisahannya.


Rating: ★★★★★★★☆☆☆