phone: +6281254509366
e-mail: rizki_apriady46@yahoo.co.id
Showing posts with label Thriller. Show all posts

Review G.I. Joe: Retaliation (2013)


Tidak ada lagi Stephen Sommers, Joseph Gordon-Levitt, Sienna Miller, Marlon Wayans dan Channing Tatum, eh, maaf, masih ada Tatum. Tetapi secara garis besar ini masih adaptasi salah satu franchise mainan (baca: action figure) laris Hasbro yang sama; hingar bingar CGI, pertempuran hi-tech dahsyat, duel maut dua ninja hebat dengan balutan tema “kebaikan melawan kejahatan” serta patriotisme modern yang dangkal. Jadi setelah sempat mengalami pengunduran jadwal tayang selama kurang lebih setahun untuk memantapkan versi 3D-nya dan promosi internasional maka  sabutlah G.I. Joe: Retaliation, sekuel sci-fi action dari G.I. Joe: The Rise of Cobra yang sempat merajai box office 2009 lalu.

Jadi dengan pendapatan yang melebihi 300 juta Dollar di film pertamanya tentu saja membuat para petinggi Paramount menjadi silau mata. Beberapa usaha dilakukan untuk membuat Retalition menjadi lebih memikat, Selain mempertahankan nama-nama lama seperti Channing Tatum, Arnold Vosloo, Ray Park, Jonathan Pryce, dan mega star Korea Selatan, Lee Byung-hun, studio berlambang gunung ini juga  menggelontorkan lebih banyak uang untuk biaya produksi, membuatnya dalam format 3D yang sepertinya menjadi sebuah kewajiban dan er.. mengganti posisi ‘komandannya’ kepada Jon M. Chu (Step Up 3D) juga menunjuk hidung Dwyne “The Rock” Johnson sebagai karakter sentral barunya, menggantikan Tatum yang “dibebas tugaskan” setelah 20 menit film berlangsung serta salah satu magnet action terbesar, Bruce Willis sebagai General Joseph Colton yang tampil di setengah jam terakhir.

Ya, ini masih G.I Joe yang sama dengan 4 tahun meskipun naskah garapan duet penulis Zombieland,  Rhett Reese dan Paul Wernick terlihat sedikit lebih baik ketimbang Rise of The Cobra dengan segala konflik-konflik berbau pengkhinatan, kudet dan pembalasan dendam seperti judulnya, “Retaliation”, namun secera keseluruhan formatnya tidak lebih jauh dari sebuah sajian aksi berisik tanpa otak dengan CGI mahal. Kisahnya? Masih melanjutkan cerita dari Rise of The Cobra. Paska ditekuknya Cobra Commander (Luke Bracey dan dialih suarakan oleh Robert Baker), para pasukan elit Amerika G.I Joe tetap meneruskan tugas mereka untuk melindungi negaranya. Namun misi terkahir mereka berakhir buruk. Diserang mendadak oleh pemerintahnya sendiri yang diperintahkan langsung oleh sang presiden mereka yang tampaknya sedang gila, nyaris menghabisi pasukan Joe dan hanya menyiskan Marvin F. Hinton a.k.a Roadblock (Dwayne Johnson), Flint (D.J. Cotrona), Jaye Burnett a.k.a Lady Jaye (Adrianne Palicki) dan Snake Eye (Ray Park). Sementara di tempat lain para anggota Cobra; Strom Shadow (Lee Byung-hun) dan Firefly (Ray Stevenson ) juga sedang sibuk untuk membebaskan pimpinan mereka yang ditahan di penjara berpenjagaan maksimum.

Rise the Cobra tidak banyak meninggalkan kenangan buat saya, adegan yang saya ingat hanya menara Eiffel yang rontok karena digerogoti oleh nanomites hijau dan Retaliation tampaknya juga punya nasib yang tidak terlalu berbeda dengan pradesesornya itu. Ini adalah jenis action menyenangkan untuk ditonton dengan segala narasinya yang ringan, komedi yang pas tapi tidak pernah kuat untuk meninggalkan kesan dan bercokol lama diingatan penontonnya.

Ya, rangkaian adegan aksinya memang keren dan juga bodoh, bahkan di menit-menit pertama saja kita sudah disugguhkan momen-momen penyergapan seru, dan Chu juga tampaknya tidak pernah menocoba untuk mengendurkan tensinya termasuk meyuuguhkan salah satu scene paling ditunggu para fansnya; pertarungan antara Snake Eyes dan rival abadinya Strom Shadow berlanjut pada baku hantam spektakuler di penggungan Himalaya, hingga akhirnya sebuah klimaks klise bersama Bruce Wills kemudian menutup aksi heroik nan klise.

Dari beberapa review yang ada banyak fans yang menunjukan kekecewaannya terhadap sekuel terbaru G.I Joe ini. Tetapi beruntung saya bukan salah satu penggemar mainan ini jadi imbasnya saya cukup menikmati setiap menit yang dihadirkan Chu. Ya, Retelation memang tidak jauh berbeda dengan pendahulunya, sama-sama menyajikan sebuah pop corn movie tanpa otak berisik yang disaat bersamaan akan memanjakan matamu dengan format 3D-nya. Efeknya tentu mengasyikan buat penonton awam seperti saya yang tidak berharap macam-macam, toh Rise of The Cobra sudah memberi saya banyak gambaran yang pada akhirnya memang tidak berbeda jauh dengan yang satu ini.


Rating: 
 

Review The Dark Knight Rises (2012)


Review di bawah ini mengandung spoiler ringan. Dianjurkan untuk tidak membacanya sebelum menonton.

Saya kurang tahu kenapa, tapi ada sesuatu antara film superhero dengan trilogi. Seakan-akan, semua franchise superhero harus terhenti di seri ketiganya. Apa yang terjadi selanjutnya adalah antara prekuel atau reboot. Karya Nolan bukanlah pengecualian, walaupun apapun yang terjadi masih mungkin terjadi, The Dark Knight Rises adalah penutup dari trilogi Batman milik Nolan. Uniknya, seringkali, seri ketiga memiliki kualitas jauh di bawah predecessor-nya (ambil contoh trilogi Spider-Man, X-Men, atau Blade) mengakibatkan kenangan pahit lebih mudah diingat ketimbang manis yang telah dihasilkan. Saya cukup lega bahwa The Dark Knight Rises (TDKR) tidak menderita sindrom serupa, bahkan TDKR adalah kado termanis yang bisa Nolan berikan untuk penutup trilogi superhero terbaik sepanjang masa ini.

4 tahun sudah berlalu sejak rilisnya The Dark Knight, film yang merubah semua standard film superhero. Thanks to Heath Ledger’s posthumous oscar winning performance, harapan untuk sekuelnya melambung tinggi. Nolan yang awalnya memasukkan Heath sebagai bagian dari rencananya untuk film ketiga harus mengulang lagi dari awal, saat kematian menyambut aktor muda berbakat tersebut. Nolan sempat tidak ingin melanjutkan ceritanya, tapi ketika akhirnya ia mendapatkan skrip yang menurutnya setara dengan TDK,  jadilah TDKR ini.

TDKR mengambil waktu 8 tahun setelah kejadian di TDK. Batman (Christian Bale) menanggung semua kesalahan milik Harvey Dent, kini ia menjadi incaran para polisi satu kota. Gotham pun sedang berada dalam masa tenangnya, Batman yang berada dalam pelarian dan sedang tidak dibutuhkan memilih untuk bersembunyi. Bersamanya, dibawa pula Bruce Wayne, yang ikut menghilang selama 8 tahun. Namun kehadiran Bane (Tom Hardy) ke Gotham membuat semuanya berubah. Batman harus kembali, atau setidaknya itu yang Jim Gordon  (Gary Oldman) inginkan. Batman pun akhirnya kembali keluar, tapi ternyata semuanya tidak semudah itu. Apalagi Bane benar-benar menguji Bruce Wayne baik dari mental maupun fisiknya. Ditambah bumbu karakter baru seperti John Blake (Joseph Gordon-Levitt), Selina Kyle/Catwoman (Anne Hathaway), Miranda Tate (Marion Cotillard) dan beberapa lainnya, The Dark Knight Rises adalah film superhero dengan tingkat kompleksitas cerita paling tinggi dibanding film sejenisnya.

Rumit tidak selamanya baik, malah bisa menjadi boomerang. Saya harus setuju, The Dark Knight Rises sedikit over-plotted, walaupun pada akhirnya semuanya berperan penting, tapi hal itu sebenarnya bisa dikurangi. Selain over-plotted, TDKR juga memiliki terlalu banyak karakter baru. Namun hal ini masih bisa dimaafkan, mengingat jangka waktu 8 tahun pasti membuat banyak karakter baru penting muncul. Hampir sejam pertama, TDKR berusaha memperkenalkan satu-persatu orang-orang barunya sambil membangun sub-plotnya yang sebenarnya berujung pada cerita klasik superhero: Penjahat ingin menghancurkan, pahlawan ingin menyelamatkan. Selama 165 menit kisah tersebut dibawakan dengan cara yang berbeda, menarik, dan brilliant!

Berbicara soal bagian  akting, tidak ada satupun yang berhasil menyentuh Heath Ledger, tetapi saya sangat suka sekali dengan Bane versi Tom Hardy. Memang tidak berbadan sebesar di komiknya, tapi sangat bisa sekali dirasakan aura keperkasaan, mencekam dan keseramannya. Apalagi bila sudah berduel dengan Batman. Benar-benar lawan yang sepadan. Dan akhirnya ada juga pertarungan yang lumayan di seri Dark Knight ini. Christian Bale sendiri sebagai Batman relatif tampil lebih baik dari seri-seri sebelumnya, namun cenderung tertutup oleh cast sampingannya. Sedangkan Anne Hathaway sebagai Selina Kyle (tidak pernah disebut Catwoman selama di film) juga tampil meyakinkan tanpa harus merusak versi Michelle Pfeifer. Namun sebenarnya yang tampil terbaik menurut saya adalah Joseph Gordon-Levitt. Image galau di 500 DOS maupun 50/50 benar-benar hilang. JGL tampil sangat berbeda dan tangguh sekali di sini. Bila harus mencari kelemahan adalah Marion Cotillard yang karaternya benar-benar underdeveloped sekali dan sayangnya memegang peran penting pada ending cerita. Sedangkan karakter macam Foley dan Daggett benar-benar hanya berfungsi sebagai pemulus cerita saja tanpa meninggalkan kesan apapun. Berbanding terbalik dengan karakter-karakter kecil di The Dark Knight yang masih lebih memorable.

Dari segi teknis, The Dark Knight Rises adalah yang terbaik dari kakak-kakaknya. Dengan budget lebih besar, lebih banyak ledakan dan aksi-aksi di luar nalar. Seperti opening scenenya yang di-shoot di langit. Itu benar-benar gila. Belum lagi final fight yang benar-benar chaos dan seperti film perang. Tambahkan juga pesawat baru Batman, The Bat, yang bisa bermanuver sesuka hati. Dengan 50 menit film ini di-shoot menggunakan kamera IMAX, maka menontonnya di IMAX pun adalah kewajiban jika memungkinkan. Saya sendiri beruntung bisa menyaksikannya di IMAX, dan benar-benar gila. Scoring Hans Zimmer yang semua sepertinya berjudul “EPIC” mampu menggetarkan kursi studio berkali-kali. Beberapa kekurangan dari segi teknisnya mungkin adalah suara Bane yang masih kurang jelas dan terdengar seperti di-dubbing. Cukup mengganggu. Juga tempo film ini yang berubah-rubah. Pada awal film terasa sekali editing yang kasar dan lompat-lompat. Namun semua itu terbayar penuh di paruh kedua filmnya.

Pada akhirnya, The Dark Knight Rises adalah sebuah film penutup yang pas. Tidak lebih baik dari The Dark Knight, namun berhasil memberikan momen-momen di mana Anda akan merinding, ingin menangis, ingin lompat, dan lain-lainnya. Audiens di studio saya sampai bertepuk tangan 3x sepanjang film. Dan endingnya, oh, it’s the best you can have.


Rating:

Review Olympus Has Fallen (2013)

Oh. Berbicara mengenai nasionalisme/patriotisme, film arahan sutradara Antoine Fuqua (Brooklyn’s Finest, 2010) yang berjudul Olympus Has Fallen ini juga mengangkat tema penceritaan yang sama. Hanya saja, daripada menghadirkan kisah mengenai seorang pelajar sekolah dasar yang berusaha mewujudkan obsesi sang kakek mengenai bendera negaranya, Olympus Has Fallen mengisahkan mengenai seorang mantan agen rahasia Amerika Serikat yang berjuang dalam melawan aksi terorisme yang berusaha memecah keutuhan negaranya. Sendirian. Terdengar seperti kisah dari salah satu seri franchise Die Hard (1988 – 2013)? Tentu! Dan rasanya setiap orang akan begitu familiar dengan jalan cerita tersebut. Pun begitu, dengan arahan Fuqua yang kuat atas intensitas presentasi aksi dalam film ini serta penampilan apik dari seluruh jajaran pengisi departemen aktingnya, khususnya Gerard Butler, Olympus Has Fallen mampu menjelma menjadi sebuah film aksi yang dapat dengan mudah menarik dan menahan perhatian setiap penontonnya secara penuh dalam 120 menit pengisahan ceritanya.

Olympus Has Fallen dimulai dengan memperkenalkan karakter utamanya: seorang agen rahasia, Mike Banning (Butler), yang kini bertugas sebagai salah satu anggota kelompok pengamanan kepresidenan. Atas etos kerjanya yang dikenal sangat cemerlang, Mike bahkan telah mendapatkan kepercayaan yang kuat dari sang presiden, President Benjamin Asher (Aaron Eckhart), beserta keluarganya: sang istri, Margaret (Ashley Judd) serta puteranya, Connor (Finley Jacobsen). Sayang, tak semua sisi kehidupan keluarga sang presiden dapat ia amankan. Ketika suatu malam terjadi sebuah kecelakaan pada iringan mobil keluarga presiden, Mike mampu menyelamatkan sang presiden… namun gagal menyelamatkan istrinya yang berujung pada kematiannya.

Delapan belas bulan kemudian, akibat tidak mampu bertahan atas kenangan buruk tersebut, Mike kini telah dipindahtugaskan menjadi pegawai Departemen Keuangan Amerika Serikat – meskipun seringkali hatinya masih merindukan masa-masa tugasnya di Istana Negara Amerika Serikat, The White House. Suatu hari, ketika President Benjamin Asher sedang menjalani sebuah pertemuan politik dengan delegasi dari negara Korea Selatan, sebuah pesawat tempur berhasil memasuki wilayah terbang ibukota Amerika Serikat, Washington DC, dan mulai menjadikan setiap benda maupun manusia yang berada dalam jangkauannya sebagai sasaran tembak. Pesawat tempur tersebut ternyata hanyalah awal dari serangkaian serangan yang dilancarkan oleh sekelompok teroris yang ingin menjadikan The White House sebagai sasaran utama mereka. Mike Banning jelas tidak menerima begitu saja negara yang ia cintai diporak-porandakan oleh sebuah kekuatan asing. Ia lalu mulai menyusun rencana untuk kemudian melakukan serangan balik kepada para anggota teroris tersebut.

Walau naskah cerita yang dihasilkan oleh Creighton Rothenberger dan Katrin Benedikt sama sekali tidak menawarkan sesuatu yang baru kepada para penontonnya, namun Olympus Has Fallen jelas bukanlah sebuah presentasi yang buruk. Sebagian kesuksesan tersebut datang dari keberhasilan Antoine Fuqua untuk mengumpulkan jajaran pemeran yang memiliki kemampuan akting yang benar-benar memuaskan. Lihat bagaimana nama-nama seperti Aaron Eckhart, Morgan Freeman, Melissa Leo, Angela Bassett, Robert Forster bahkan Radha Mitchell mampu memberikan penampilan yang begitu mencuri perhatian meskipun porsi penceritaan karakter yang mereka perankan benar-benar terbatas.

Gerard Butler yang berada di garda terdepan departemen akting juga jelas tidak mengecewakan. Butler yang berperan pada sebuah film aksi jelas merupakan Butler yang berada pada elemen terbaiknya dan ia mampu mendalami karakter yang ia perankan dengan sempurna! Pujian yang sama juga dapat diberikan kepada Rick Yune yang memerankan karakter antagonis utama. Dengan wajah tampan dan tubuh atletisnya, Yune mampu menjelma menjadi sosok karakter yang memikat namun jelas sangat mematikan. Baik Butler dan Yune berhasil membuat karakter yang mereka perankan menjadi benar-benar tampil mengesankan – termasuk ketika kedua karakter tersebut akhirnya saling berhadapan.

Layaknya film-film sejenis, Olympus Has Fallen juga mampu tampil kuat di bagian presentasi cerita yang sama. Momen-momen emas film ini hadir ketika Fuqua menyajikan deretan adegan penuh kekerasan dan darah dalam menggambarkan aksi para teroris yang menyerbu masuk The White House. Fuqua mampu mempertahankan intensitas aksi di setiap bagian penceritaan tersebut dengan menghadirkan kualitas audio visual yang benar-benar akan mampu mempesona setiap penontonnya. Intensitas ketegangan di dalam jalan cerita film juga mampu terjaga ketika Fuqua menghadirkan beberapa adegan interogasi. Fuqua tahu benar tentang material yang sedang ia kerjakan – bahwa Olympus Has Fallen akan benar-benar mampu tampil kuat dengan eksplorasi yang tepat di sisi aksi ceritanya – dan adalah mudah untuk mengungkapkan bahwa Fuqua berhasil menggarap film ini menjadi sebuah sajian aksi yang sangat menghibur.

Di saat yang sama, Fuqua sayangnya gagal mencegah Olympus Has Fallen untuk tidak jatuh ke jebakan film-film sejenis. Ketika intensitas ketegangan cerita telah berhasil terbangun semenjak awal, Olympus Has Fallen mulai terasa bertele-tele dalam menyampaikan solusi permasalahannya. Kumpulan teroris dan kaki tangannya yang awalnya digambarkan begitu perfeksionis dalam melancarkan aksinya secara perlahan ditampilkan mulai menemui kelemahan – agar sang karakter utama dapat menjatuhkan mereka. Deretan dialog yang awalnya terkesan normal kemudian berubah menjadi semakin cheesy seiring dengan perjalanan durasi film ini. Pun begitu, dengan balutan adegan aksi yang telah disajikan Fuqua, rasanya tidak akan banyak suara sumbang yang mempermasalahkan kerikil-kerikil kecil yang hadir di sepanjang perjalanan film ini.

Olympus Has Fallen jelas bukanlah sebuah film yang akan banyak diingat oleh banyak orang lama setelah selesai menyaksikannya. Pun begitu, Antoine Fuqua berhasil menggarap film ini dengan baik sehingga memiliki kualitas yang berada di atas kualitas film-film sepantarannya. Bagian kesuksesan tersebut datang dari kemampuan Fuqua untuk mengendalikan ritme penceritaan film sehingga mampu menghadirkan intensitas ketegangan cerita yang begitu terjaga. Ditambah dengan apiknya tata produksi serta penampilan akting para jajaran pemeran film, Olympus Has Fallen berhasil menjelma menjadi sebuah presentasi aksi yang meskipun terkesan klise namun mampu tampil begitu menghibur di sepanjang pengisahannya.


Rating: ★★★★★★★☆☆☆

Review Broken City (2013)

Broken City memulai kisahnya dengan sebuah proses peradilan yang dialami oleh seorang anggota New York Police Department, Billy Tagart (Mark Wahlberg), akibat tuduhan pembunuhan yang dilakukannya pada seorang tersangka kejahatan pemerkosaan serta pembunuhan. Berkat bantuan rekannya di kepolisian, Captain Carl Fairbanks (Jeffrey Wright), kasus Billy kemudian mendapatkan sokongan dari Walikota New York, Nicholas Hostetler (Russell Crowe), yang menganggap bahwa pembunuhan yang dilakukan oleh Billy terjadi karena pembelaan diri. Meski banyak pihak yang meragukan pernyataan tersebut, namun pengadilan akhirnya memutuskan untuk menghentikan proses hukum terhadap Billy serta menyatakannya sebagai pihak yang tidak bersalah.

Tujuh tahun berlalu, Billy kini tidak lagi bekerja sebagai anggota kepolisian New York Police Department. Bersama dengan asistennya, Katy Bradshaw (Alona Tal), Billy bekerja sebagai seorang detektif swasta. Sebuah panggilan penting dari sang walikota kemudian mengembalikan Billy ke memori lamanya. Sang walikota sendiri – yang sedang berada dalam kesibukan masa kampanye – kemudian meminta bantuan Billy untuk menyelidiki dugaan bahwa istrinya, Cathleen (Catherine Zeta-Jones) kini sedang berselingkuh darinya. Dengan bayaran yang cukup besar, tugas tersebut akhirnya dilaksanakan Billy dan dapat diselesaikannya dengan mudah. Namun, beberapa saat sebelum Billy menyerahkan laporannya pada sang walikota, Cathleen datang menghampiri Billy dan mengungkapkan bahwa dirinya justru sedang berada di dalam jebakan sang walikota.

Meskipun mendapatkan dukungan penampilan dari para aktor maupun aktris kaliber Oscar, mungkin ada baiknya bagi para penonton Broken City untuk menghindarkan diri mereka dari ekspektasi bahwa mereka akan menyaksikan sebuah drama thriller politis yang mampu berjalan kuat serta provokatif. Broken City sangat jauh dari pencapaian tersebut. Mark Wahlberg, Russell Crowe dan Catherine Zeta-Jones masih mampu memberikan penampilan yang cukup lumayan – meskipun dengan pengembangan karakter yang begitu terbatas. Dukungan akting dari  Jeffrey Wright, Kyle Chandler, Barry Pepper dan Alona Tal – yang seringkali mencuri perhatian di setiap kehadirannya – juga semakin memperkuat kualitas penampilan departemen akting dari Broken City.

Permasalahan terbesar dari Broken City terletak pada penulisan naskah ceritanya. Di tangan penulis-penulis naskah yang mungkin lebih berpengalaman dalam menata jalan penceritaan sejenis, tema penceritaan yang menyentuh wilayah politik serta dunia kepolisian seperti yang dihadirkan dalam Broken City mungkin akan mampu disajikan sebagai sebuah drama politik yang menegangkan sekaligus mampu memicu ketertarikan penonton dalam mempertanyakan begitu banyak hal dari dalam jalan cerita film. Sayangnya, penulis naskah film ini, Brian Tucker, sama sekali tidak memiliki kemampuan yang begitu mendalam dalam menggarap naskah ceritanya. Dunia politik dan kepolisian lebih sering terlihat hadir hanyalah sebagai latar belakang kisah secara keseluruhan dan tidak pernah mampu dihadirkan secara mendalam untuk memperkaya unsur penceritaan film.

Kelemahan tersebut masih hadir dalam bentuk kontinuitas Tucker dalam merangkai jalan cerita Broken City. Banyak bagian plot cerita yang gagal untuk dikembangkan dengan baik. Beberapa diantaranya malah terkesan menghilang secara tiba-tiba di tengah-tengah penceritaan tanpa penjelasan kuat. Hal yang sama juga dapat menggambarkan bagaimana kualitas penulisan Tucker terhadap karakter-karakter yang ada di dalam jalan cerita filmnya. Karakter-karakter yang dihadirkannya terkesan begitu datar dan tidak pernah mampu terlihat menarik. Sebuah usaha untuk meningkatkan intensitas cerita dengan menghadirkan sebuah kejutan di akhir kisah justru menjadi terkesan sia-sia dan konyol akibat eksekusi keseluruhan yang terlah terlanjur berjalan datar.

Sejujurnya, Broken City bukanlah sebuah presentasi yang begitu buruk. Bahkan, pada 45 menit awal penceritaan film ini, sutradara Allen Hughes mampu menghadirkan sebuah jalinan kisah yang potensial untuk dapat berkembang menjadi sebuah garis penceritaan yang menarik. Sayangnya, hal tersebut tidak pernah dapat benar-benar terjadi. Broken City tampil berusaha untuk menyentuh berbagai tingkatan penceritaan yang biasa dihadirkan dalam film-film sejenis, namun gagal untuk memberikan penggalian yang mendalam untuk dapat membuat kualitas penceritaannya menjadi memuaskan secara keseluruhan. Watchable… namun jelas bukan sebuah karya yang akan banyak diingat penontonnya dalam waktu yang lama.


Rating: ★★★★★★☆☆☆☆

Review A Good Day to Die Hard (2013)


Enam tahun setelah seri terakhir dalam franchise Die Hard, Live Free or Die Hard (2007) yang disutradarai oleh Len Wiseman, John McClane kembali lagi untuk mencari lebih banyak permasalahan lewat A Good Day to Die Hard – seri kelima dalam franchise Die Hard yang kali ini disutradarai oleh John Moore (Max Payne, 2008) dengan naskah cerita yang ditulis oleh Skip Woods (The A Team, 2010). Well… mereka yang mengikuti atau bahkan menggemari deretan petualangan John McClane jelas telah mengetahui dengan pasti mengenai apa yang akan mereka dapatkan dari seri ini. Pun begitu, rasanya tidak akan ada yang dapat menyangkal bahwa dengan penulisan jalan cerita dan karakter yang begitu dangkal pada seri kali ini, A Good Day to Die Hard terasa begitu melelahkan untuk disaksikan bahkan ketika Moore berusaha keras untuk menghadirkan deretan adegan aksi yang spektakuler untuk menutupi kelemahan tersebut.

Dalam A Good Day to Die Hard, John McClane (Bruce Willis) melakukan perjalanan ke Moscow, Rusia, untuk membantu puteranya, Jack (Jai Courtney), yang menjadi tersangka dalam sebuah kasus pembunuhan. Jack sendiri ternyata sedang dalam misi rahasia yang ia kembangkan bersama pihak Central Intelligence Agency dan sengaja melakukan tindakan pembunuhan tersebut untuk mendekati Yuri Komarov (Sebastian Koch), seorang tahanan politik yang dinilai CIA berpotensial untuk membantu mereka untuk menangkap seorang pejabat tinggi pemerintahan Rusia, Chagarin (Sergei Kolesnikov), yang diduga memiliki keterlibatan dalam sebuah kasus kejahatan tingkat tinggi.

Chagarin sendiri tentu saja tidak tinggal diam ketika mengetahui bahwa Yuri Komarov memegang sebuah dokumen penting mengenai keterlibatannya dalam tindakan kejahatan tersebut. Dalam sebuah aksinya, Chagarin memerintahkan anak buahnya untuk membunuh Yuri Komarov – sebuah tindakan yang akhirnya turut menyeret Jack dan John dalam sederetan serangan yang sangat mematikan. Seperti biasa, John jelas tidak akan tinggal diam melihat keselamatan nyawa diri dan anaknya terancam begitu saja. Walau hubungan antara dirinya dan Jack tidaklah akur, John akhirnya mulai menyusun rencana bersama dengan Jack untuk melepaskan diri mereka dari teror tersebut.

So… here’s the thing. Ketika banyak orang menyangka bahwa dengan menuanya usia Bruce Willis maka franchise Die Hard akan sukar untuk menarik para penonton dari generasi baru, Len Wiseman berhasil memberikan kesegaran baru bagi franchise tersebut dengan Live Free or Die Hard yang mampu memadukan sajian aksi yang kuat, dialog bernuansa komedi yang cukup kental di banyak bagian ceritanya serta deretan karakter pendukung yang mampu mengimbangi kuatnya kharisma karakter John McClane yang masih dimainkan oleh Bruce Willis. Live Free or Die Hard jelas bukanlah sebuah presentasi film aksi terbaik yang pernah ada. Namun film keempat dalam seri franchise Die Hard tersebut jelas mampu memberikan momen-momen hiburan aksi terbaik bagi para penggemar film-film sejenis.

Sayangnya, keseluruhan presentasi yang terdapat dalam A Good Day to Die Hard bergerak di arah yang berlawanan dengan Live Free to Die Hard. Dengan naskah cerita yang dihasilkan oleh Skip Woods, A Good Day to Die Hard tampil hanyalah sebagai alat untuk memberikan ruang bagi Bruce Willis sebagai seorang bintang aksi yang telah menua untuk melakukan berbagai tindakan aksi yang berlebihan – sama seperti yang dilakukan The Last Stand bagi Arnold Schwarzenegger serta dua seri The Expendables (2010 – 2012) bagi para deretan pemerannya. Selebihnya, A Good Day to Die Hard tidak pernah mampu tampil menarik dengan mengisi setiap celah penceritaannya dengan pengembangan karakterisasi yang sangat dangkal serta plot cerita yang lebih mengutamakan adegan aksi yang berlebihan daripada penceritaan yang terasa berjalan alami.

Kehadiran karakter putera John McClane dalam A Good Day to Die Hard sendiri sebenarnya memberikan ruang bagi Woods untuk memberikan sebuah kisah pendukung mengenai hubungan yang terjalin antara karakter ayah dan anak. Mungkin Woods tidak ingin mengulang jalinan kisah yang ssebelumnya pernah disentuh dalam Live Free or Die Hard namun Woods tidak pernah berhasil menghantarkan sebuah penggalian karakter yang cukup mendalam untuk membuat penonton merasa yakin dengan hubungan darah yang terjalin antara karakter John McClane dan anaknya. Keduanya tampil dalam karakterisasi yang begitu dingin dan sukar untuk mudah disukai.

Kedangkalan penggalian jalan cerita dan karakter dalam A Good Day to Die Hard jelas memberikan pengaruh tersendiri kepada bagaimana setiap masing-masing pengisi departemen akting memberikan kontribusi mereka terhadap film ini. Nama-nama seperti Bruce Willis, Jai Courtney hingga Sebastian Koch, Radivoje Bukvic dan Yuliya Snigir  jelas tidak dapat berbuat banyak untuk membuat kehadiran karakter mereka begitu berarti kehadirannya. Mereka masih mampu tampil dalam kapasitas yang tidak mengecewakan. Namun dengan penggalian karakterisasi yang dikesampingkan demi kehadiran adegan aksi yang bombastis, hanya sedikit yang dapat dilakukan jajaran pemeran film ini untuk membantu meningkatkan kualitas penampilan jalan cerita film ini secara keseluruhan.

A Good Day to Die Hard sebenarnya memiliki banyak peluang untuk hadir sebagai film aksi yang dipenuhi deretan adegan aksi dan ledakan yang bombastis namun tetap mampu tampil sejalan dengan kualitas penceritaan yang berarti. Namun sayangnya, penulis naskah Skip Woods tidak memiliki kemampuan yang handal untuk melakukan penggalian tersebut. John Moore sepertinya sadar akan kekurangan tersebut dan akhirnya memilih untuk menutupi lubang-lubang dalam jalan penceritaan filmnya melalui kehadiran deretan adegan aksi yang begitu luar biasa. Begitu mampu untuk memicu adrenalin pada awalnya namun secara perlahan mulai terasa melelahkan ketika dihadirkan secara terus menerus dan tanpa kemampuan untuk menghadirkan jalan cerita yang lebih menarik. Sebuah presentasi yang jelas jauh dari mengesankan.


Rating: ★★★★★★★★☆☆