phone: +6281254509366
e-mail: rizki_apriady46@yahoo.co.id
Showing posts with label Drama. Show all posts

Review The Great Gatsby (2013)


Perhatian! Ini bukan film tentang produk minyak rambut pria yang hebat meskipun faktanya banyak pria dengan rambut klimis di dalamnya. Ya, ini adalah The Great Gatsby yang lain, sebuah remake dari drama romantis berjudul sama yang disutradarai Jack Clyaton dan dibintangi Robert Redford empat dekade lalu. Di versi daur ulangnya ini ada sutradara Moulin Rouge Baz Luhrmann yang mencoba menciptakan kembali dunia cinta penuh konflik di era jazz klasik dari setiap lembar dari novel yang juga sumber aslinya milik yang penulis kondang F. Scott Fitzgerald.

Kisahnya dibuka dengan narasi yang disuarakan lulusan Yale dan veteran perang dunia pertama, pemuda naif alkoholik itu adalah Nick Carraway (Tobey Maguiere) yang sebelumnya pernah terjebak dalam kehidupan glamor dan konflik cinta para tetangganya di West Egg, Long Island. Ada pasangan pasutri kaya, Daisy Buchanan (Carey Mulligan), dan suaminya, Tom (Joel Edgerton) yang juga teman Nick sewaktu kuliah. Lalu juga ada Jordan Baker (Elizabeth Debicki), wanita cantik, sahabat Daisy yang ingin dipasangkan dengan Nick. Tetapi yang paling menarik perhatian Nick adalah tetangga samping rumahnya, seorang miliader misterius bernama Gatsby (Leonardo DiCaprio) yang sering mengadakan pesta besar-besaran di rumah mewahnya.

Ada kemeriahan pesta yang dipenuhi musik, dansa dan kembang api penuh warna warnai yang glamor, ya, itu semua seperti materi-materi kesukaan Lurhmann apalagi ketika kamu memberikan tema cinta tragis di dalamnya bisa dipastikan ia akan memberikanmu sebuah sajian megah dengan visual yang sama cantiknya dengan performa para ensemble cast yang bermain di dalamnya, apalagi kali ini Lurhmann menghadirkannya dalam format 3D yang sedang booming. Sumber aslinya adalah bacaan yang bagus, sama bagusnya dengan karya klasik Shakespeare, Romeo and Juliet yang pernah diadaptasi Lurhmann dalam era modern yang juga diperankan DiCaprio sebagai Capulet muda, tetapi Gatsby sendiri punya materi lebih dewasa, lebih kompleks dari dua sejoli yang cinta mati dan juga erat dengan era modern saaat ini ketika ia banyak menyinggung  dunia para hedonis yang penuh dengan materi berlebih, meskipun di balik setiap pakaian mahal, mobil mewah dan perhiasaan berkilaunya ini masih sama-sama berisi tentang cinta sejati dan pengorbanan besar.

Untuk teknis, Lurhmann jelas tidak usah diragukan, dari Strictly Ballroom yang kecil sampai Australia yang besar ia punya cita rasa tinggi dalam memvisualisasikan setiap momen-momen sentimentilnya bersama balutan artisitik tingkat tinggi yang memukau dan memanjakan mata, editing cepat plus dukungan musik-musik kontemporer yang tidak sesuai dengan jamannya. Namun di sisi lain Lurhmann sebenarnya bukan pencerita yang ulung bahkan Moulin Rouge sendiri yang buat saya adalah karya terbaik Lurhmann juga banyak tertolong oleh performa apik Nicole Kidman dan Ewan McGregor serta pilihan tembang-tembang romantisnya yang indah, maka tidak terlalu mengejutkan jika narasi Gatsby tidak mampu hadir sekuat novelnya atau setidaknya versi 78′nya yang sempat populer itu.

Ya, meskipun tidak sampai terseok-seok seperti Australia, tetapi Gatsby terasa terlalu lama dan seperti berputar-putar untuk mencapai titik yang ingin dituju, namun masalah terbesarnya bukan pada durasi yang panjang, plot dragging atau dialog-dialog membosankannya, tetapi ketika Luhrmaan gagal menghadirkan sisi emosional yang seharusnya bisa tergali lebih dalam lagi dari kisah cinta tragis macam ini padahal hampir semua pemainnya sendiri sudah semaksimal mungkin menghadirkan setiap karakternya dengan perfoma yang bagus, terutama Joel Edgerton yang tampil paling apik. Sementara karakter utama Gatsby yang dibawakan DiCaprio tersaji bak dua sisi mata uang yang berbeda, begitu misterius dan berwiba di awal namun ia begitu kesepian dan menyedihkan di sisi lainnya sebagai pria yang menderita banyak karena cinta.

Satu lagi adaptasi Lurhmaan yang tidak mampu memberikan sebuah penghormatan besar pada sumber aslinya. The Great Gatsby itu hanya terasa mewah di kulit luarnya dengan segala parade visual yang cantik dan iring-iringan lagunya yang enak, namun dalam hal miskin ketika mengadaptasi  emosi dari setiap lembar tulisan-tulisan apik Fitzgerald tentang cinta sejati dan pengorbanan di gemerlapnya dunia yang penuh harta dan ketenaran.


Rating: 
 

Review The Perks of Being a Wallflower (2012)

 
 "Dear Friend, I’m sorry I haven’t written in awhile, but I’ve been trying hard to not be a loser.” - Charlie

Tidak ada yang lebih mengenal seorang anak ketimbang ibunya sendiri, sama halnya novel, tidak ada yang bisa lebih tahu persis dirinya ketimbang pengarangnya sendiri, jadi ketika seorang penulis seperti Stephen Chbosky dipercaya oleh para petinggi Mr. Mudd Productions (para produser dari Juno) untuk memegang kendali penuh, tidak hanya bertindak sebagai penulis naskah seperti yang sudah sering dilakukan para koleganya sesama novelist, namun juga duduk sebagai sutradara untuk versi live action dari novel teenlit coming of-age populer miliknya yang di publikasi 1999 lalu, sebuah kasus yang jarang terjadi. Maka inilah yang kamu dapatkan; The Perks of Being a Wallflower, romcom teenflick terbaik tahun ini. Jika kamu pernah merasakan indahnya masa remaja maka bisa dipastikan akan menyukai ini; masa-masa menjadi adik kelas di SMU, diganggu kakak kelasmu, punya guru favorit dan teman-teman terbaik atau mungkin cinta dan ciuman pertamamu, ya, kamu akan mendapatkan itu semua di sini dalam satu paketThe Perks of Being a Wallflower plus prom night, pesta rumah yang melibatkan brownies ganja dan sedikit elemen homoseksualitas. Tetapi jika hanya menjual premis remaja usang seperti itu jelas sudah biasa, yang menjadikannya istimewa adalah karena Chbosky sukses mengangkut semangat novelnya dengan sangat baik ke medium barunya, sesuatu yang biasanya susah dilakukan oleh banyak sutradara.

Ya, maklum saja seperti yang sudah saya katakan di atas, tidak ada yang lebih mengenal setiap lembar halaman novelnya sebaik Chbosky sendiri, tidak ada yang lebih mengenal setiap karakternya ketimbang Chbosky,  jadi apa yang sudah dibuatnya di sini itu seperti bagaimana kamu memperlakukan anak kandungmu dengan sebaik-baiknya, termasuk bagaimana menghadirkan keseimbangan antara terang dan gelap, antara kegembiraan masa remaja dan konflik kelam yang menjadi latar belakang masing-masing  pribadi karakter utamanya tanpa harus terlihat berbodoh-bodoh ria dengan joke-joke kotor berlebihan atau sok ber-wise ria dengan segala petuah-petuahnya yang sok dewasa. Oke, Chbosky jelas sudag sukses mentransfer spirit novelnya, tetapi tidak hanya itu, di bagian teknis untuk ukuran sutradara pemula, ia rupanya juga mampu menghadirkan segala keriangan, kesedihan dan momen-momen emosional dengan baik tanpa harus terlihat menjadi melodrama berlebihan. Meskipun tidak tertera kapan setting The Perks berlangsung namun dengan pemilihan lagu-lagu keren yang ada (“Come On Eileen”-nya Dexys Midnight Runners, “Asleep”-nya  The Smiths – sampai versi asli “Heroes” yang dibawakan David Bowie) kita tahu bahwa mereka berada di era 90’an dengan segala keintiman persahabatan dan cinta yang masih belum tercemar dengan segala pengaruh smartphone ataupun jejaring sosial.

Chbosky juga banyak terbantu dengan pemilihan cast yang tersedia. Ada Logan Lerman yang di luar dugaan tampil bagus sebagai Charlie yang introvert dan berusaha mencari jati dirnya dengan masa lalu yang kelam dipundaknya, ya, sebuah transformasi yang terbilang luar biasa dari aktor yang pernah menjadi putra Poseidon (Percy Jackson & the Olympians: The Lightning Thief) dan d’Artagnan dalam remake The Three Musketeers lalu kini mencoba menjadi dirinya sendiri, maksud saya seorang remaja tanggung dengan segala problematika hidupnya, namun tentu saja saya yakin Lerman masih beruntung tidak memiliki masa lalu seburuk Charlie yang nantinya akan dijawab dalam sebuah klimaks emosional. Lalu ada Emma Watson, ah, senang rasanya bisa melihat ia terbebas dari seragam Hogwarts dan segala hal-hal berbau sihir yang selama ini melekat kepadanya. Penampilannya sebagai Sam mungkin tidak terlalu istimewa, bahkan ia pun terlihat bersusah payah untuk menyembunyikan aksen Inggris,  namun sekali lagi pesona Watson tetap memberikan nilai lebih pada The Perks. Dan last but not least, Ezra Miller, salah satu aktor remaja favorit saya ini memang belum pernah mengecewakan, termasuk juga kali ini ketika ia memberikan nyawa buat peran Patrick, sahabat Charlie yang meyenangkan dan juga sama rapuhnya.

Mungkin ini salah satu teenflick terbaik setelah St. Elmo’s Fire. Sebuah coming-of age dengan segala bumbu persahabatan, cinta dan segala suka duka masa remaja yang terbungkus dalam presentasi yang apik dan manis dari Stephen Chbosky; sang empunya cerita. The Perks of Being a Wallflower  tidak hanya memberikanmu kesenangan sebuah romcom remaja, namun di sisi lain ia juga mampu menyentuh nurani ketika dihadapkan dengan konflik kelam pribadi karakter-karakter utamanya yang sukses dibawakan oleh para cast-nya dengan gemilang.


Rating: 
 

Review (500) Days Of Summer (2009)


”I love her smile. I love her hair. I love her knees. I love how she licks her lips before she talks. I love her heart-shaped birthmark on her neck. I love it when she sleeps“- Tom
 
Ini adalah (bukan) kisah cinta seorang pria dan seorang wanita. Sang pria adalah Tom Hansen (Joseph Gordon-Levitt), seorang yang bercita-cita menjadi arsitek namun kenyataanya ia malah terdampar menjadi penulis kartu ucapan. Sejak kecil Tom tumbuh dengan memegang teguh kepercayaannya bahwa ia tidak akan pernah bisa hidup bahagia sampai ia bertemu dengan belahan jiwanya. Sebaliknya, sang wanita, Summer Finn (Zooey Deschanel) sama sekali tidak percaya apa itu cinta, semuanya itu tidak terlepas karena efek besar perceraian orangtuanya disaat ia kecil. Jadi bagi Summer Finn tidak ada dalam kamusnya istilah “pacar” atau “komitmen”. Baginya hubungan yang ia jalani dengan pria2 selama ini hanyalah hubungan pertemanan biasa yang dapat dengan mudah dan tanpa perasaan bersalah sedikitpun dapat ia ‘cut’ kapan saja, seperti tanpa perasaan menyesal sedikitpun disaat ia memotong rambut hitam panjangya yang indah itu.

Pada tanggal 8 Januari di musim semi yang indah, Tom akhirnya bertemu dengan Summer yang kebetulan bekerja sebagai asisten bosnya, dan pada saat itulah ia merasa bahwa Summer adalah wanita yang selama ini ia cari. Dan pada saat itu juga dimulailah a story of boy meets girl, but you should know upfront, this is not a love story. Semenjak kemunculan Annie Hall, High Fidelity, dan Eternal Sunshine of the Spotless Mind praktis tidak ada lagi film-film komedi romantis yang mampu tampil unik, segar dan berkualitas sekaligus mampu memberikan efek begitu besar kepada para penontonnya. Dan pada tahun 2009 lalu kehadiran (500) Days of Summer membuat semuanya berubah. Ya, kehadiran drama indie romantis satu ini benar-benar mampu menjadi sebuah kejutan besar yang menyengangkan karena berhasil mendapatkan tanggapan sangat postif baik dari para kritikus dunia maupun para penonton biasa. Bukan hanya sukses secara kualitas, film yang didistribusikan oleh Fox Searchlight Pictures ini pun berhasil meraup keuntungan yang sangat besar, dengan ‘hanya’ bermodalkan 7,500,000 juta dollar, film ini mampu meghasilkan pendapatan nyaris 10x lipatnya.

Kesuksesan yang berhasil di capai oleh (500) Days of Summer tidak lepas dari aroma indie kental yang menyelimutinya, terlihat dari bagaimana Webb berhasil mempresentasikan film ini dengan tampilan dan editing2 nya yang kreatif, tidak lazim, penuh kebebasan sekaligus indah. Pengunaan gaya naratif disertai plot nonlinear juga menjadi daya tarik dan nilai plus tersendiri yang membuat segalanya menjadi tampak berbeda dan berkelas. Tampaknya gaya Webb dalam menggarap video klip sangat berpengaruh besar membentuk ‘wujud’ ‘(500) Days of Summer ini.

tentu tidak terlepas dari jasa 3 orang hebat yang berdiri di balik layar. Ya tanpa kejeniusan Mark Webb, Scott Neustadter dan Michael H. Weber tentu saja tidak mungkin film ini bisa tampil sebaik ini. Sebagai seorang sutradara spesialis video klip, Mark Webb di debut film layar lebar pertamanya ini mampu menyuguhkan semangat Jika Webb sukses membentuk ‘wujud’ film ini, Scott Neustadter dan Michael H. Weber yang bertugas sebagai penulis naskah pun tidak ketinggalan mengisi ‘jiwa’ film dengan manyajikan kisah percintaan dan romantisme yang bisa dibilang ‘akrab’, khususnya bagi para penonton pria. Bisa dibilang hampir semua pria pernah merasakan pengalaman bagaimana indahnya jatuh cinta, bagaimana pahitnya di putus oleh kekasih, bagaimana rasanya menjalani hari-hari penuh penderitaan tanpa kehadiran si dia, dan bagaimana jika wanita yang kita taksir selama ini ternyata hanya menganggap hubungan yang selama ini dibangun hanya sebatas sahabat, walaupun tindakannya sendiri terkadang melebihi dari seorang sahabat. Semua konflik-konflik tersebut mampu dihadirkan dengan dialog-dialog segar dan fun bahkan tidak jarang membuat kita tersenyum atau mungkin tertawa lepas melihat bagaimana hubungan tidak wajar Tom dan Summer yang berlangsung selama 500 hari yang penuh suka duka tersebut.

Kredit plus juga pantas diberikan oleh kedua pemain utamanya. Baik, Joseph Gordon-Levitt maupun Zooey Deschanel tampaknya benar-benar sangat menikmati peran mereka disini sebagai pasangan TTM yang serasi. Meyenangkan memang melihat bagaimana kedua karakter ini berinteraksi satu sama lain apalagi dengan chemistry yang dibangun dengan sangat kuat. Walaupun bukan akting terbaik dari keduanya, namun tetap saja kedua aktor-aktris ini mampu mempesona penontonnya. Aroma indie juga tampak pada Soundtrack2nya yang keren dan emosional. Dengar saja bagaiman lagu “A Story of Boy Meets Girl” yang dibawakan Mychael Danna and Rob Simonsen dengan manis mengawali film ini sampai “She’s Got You High” dari Mumm-Ra menutup perjalanan kisah cinta Tom Hansen.

Overall, jangan terlalu percaya dengan narasi Richard McGonagle yang mengatakan bahwa (500) Days of Summer bukanlah sebuah kisah cinta, malahan bisa dibilang film ini adalah salah satu cerita cinta terbaik dan terkeren yang pernah dibuat oleh perfilman modern saat ini.


Rating: 
 

Review Flight (2012)


”Nobody could’ve landed that plane like I did.” - Whip

Flight menandakan beberapa hal menarik; Untuk pertama kalinya sutradara Robert Zemeciks bekerja sama dengan Danzel Washington, ini juga film pertamanya setelah Used Cars (1980) yang diberi lebel R-rated dan yang paling penting ini bukan lagi animasi motion capture CGI seperti tiga karya terakhirnya (Polar Express, Beowulf dan A Christmas Carol). Ya, menyenangkan memang akhirnya melihat seorang sutradara hebat seperti Zemeciks kembali ke ‘dunia aslinya’; menyutradarai sebuah live action setelah 12 tahun (terakhir Cast Away dan What Lies Beneathtahun  2000 lalu) hanya berkutat dengan animasi-animasi kelas dua ambisius yang faktanya malah menjadi bumerang buat dirinya sendiri.

Opening scene-nya yang melibatkan seks, alkohol dan heroin sudah langsung menegaskan kenapa Flight sampai kemudian diberi rating ‘R’. Lalu 20 menit kemudian, setelah melewati beberapa adegan yang seperti tidak nyambung yang melibatkan sosok cantik Kelly Reilly dalam wujud Nicole yang tengah berjuang menghadapi kencanduan obat biusnya, penonton langsung dihadapkan pada sajian utama Flight seperti yang kamu lihat dalam trailer-nya; Sebuah kerusakan mesin pesawat yang berujung pada sebuah aksi heroik luar biasa yang dilakukan pilotnya, William “Whip” Whitaker (Denzel Washington). Ya, pesawat komersial berisi 102 penumpang itu pada akhirnya memang terjatuh dan menewaskan beberapa orang di dalamnya dan apa yang dilakukan Whip juga memang luar biasa karena berhasil menyelamatkan banyak jiwa, namun ada sisi lain yang terkuak di balik kepahlawanan Whip. Selidik punya selidik rupanya sebelum melakukan penerbangan naas itu Whip berada dalam kondisi yang buruk; kurang tidur, mabuk alkohol dan yang paling parah, berada dalam pengaruh obat bius.

Ya, di satu sisi dangkalnya Flight seperti menawarkan sebuah drama thriller dengan aksi penyelamatan pesawat terbaik yang mungkin pernah kamu lihat dalam sejarah perfilman, tetapi jika hanya aksi heroisme itu saja yang ingin dijual Zemeckis maka Flight mungkin akan langsung berakhir setelah setengah jam ia dimulai. Lalu ketika menginjak sisi lainnya,  ini menjadi bukan sekedar kisah sederhana tentang bagaimana seorang pilot handal melakukan sebuah tindakan luar biasa untuk menyelamatkan banyak jiwa, kalau mau jujur atraksi utamanya sebenarnya ada setelah momen menegangkan itu. Yang terjadi kemudian adalah sebuah kisah yang lebih dalam, kompleks dan melibatkan banyak sisi emosional ketika penontonnya dihadapkan dengan sosok pilot alkoholik angkuh yang hidupnya mendadak berubah setelah sebuah peristiwa besar menimpannya.

Seperti kata orang bijak, “Tuhan itu bekerja dengan caranya yang misterius”, maka apa yang kemudian terjadi di sebagian besar porsi Flight adalah seperti versi lain dari Contact yang juga pernah dibuat Zemeckis 1999 lalu, ketika ia merubah hidup Jodie Foster melalui sebuah perjalanan kosmos fantastis, bedanya karakter pilot yang dibawakan Danzel dalam satu peran terbaiknya ini mungkin terasa lebih membumi dan lebih realitis ketimbang kisah ilmuwan atheis yang menembus antariksa dengan pesawat alie dan juga sedikit banyak sudah mengingatkan saya pada kasus yang menimpa beberap pilot di maskapai lokal kita yang juga terjerat oleh kasus narkoba baru-baru ini.

Seperti kebanyakan pencandu minuman keras, karkater Whip itu menarik karena kebebalannya untuk mau bertobat, tidak peduli seberapa banyak orang yang mencintai dan peduli kepadanya, yang dilakukannya hanya bersembunyi di balik botol-botol Jack Daniel’s, kaleng-kaleng bir dan serbuk-serbuk putih heroin yang menghancurkan hidupnya. Perjalanan dari sosok hero to zero digambarkan dengan baik oleh Zemeckis, dan beruntung ia punya pemain sekaliber Danzel yang mampu menghidupkan sosok pilot flamboyan yang juga luar biasa rapuh itu bersama sebuah performa cemerlang, lalu ada juga ada aktris cantik Inggris, Kelly Reilly tampil memesona sebagai love interst Whip. Sementara di jajaran peran pendukungnya ada nama Don Cheadle, Bruce Greenwood, John Goodman termasuk juga Melissa Leo yang hanya tampil sebentar di penghujung film.

Bukan karya terbaik Robert Zemeckis memang apalagi jika mau menyandingkannya dengan Forrest Gump yang legendaris itu, tetapi jika kamu melihat dari sisi seorang sutradara yang sudah sedekade lebih ini tidak pernah lagi membuat film live action, maka Flight jelas adalah sebuah persembahan drama yang bagus. Jangan tertipu dengan premis atau trailernya, karena Flight jauh lebih rumit dan lebih dalam dari sekedar bagaimana seorang pilot alkoholik yang menjungkirbalikan pesawatnya.

Rating: ★★★★★★★☆☆☆

Review Broken City (2013)

Broken City memulai kisahnya dengan sebuah proses peradilan yang dialami oleh seorang anggota New York Police Department, Billy Tagart (Mark Wahlberg), akibat tuduhan pembunuhan yang dilakukannya pada seorang tersangka kejahatan pemerkosaan serta pembunuhan. Berkat bantuan rekannya di kepolisian, Captain Carl Fairbanks (Jeffrey Wright), kasus Billy kemudian mendapatkan sokongan dari Walikota New York, Nicholas Hostetler (Russell Crowe), yang menganggap bahwa pembunuhan yang dilakukan oleh Billy terjadi karena pembelaan diri. Meski banyak pihak yang meragukan pernyataan tersebut, namun pengadilan akhirnya memutuskan untuk menghentikan proses hukum terhadap Billy serta menyatakannya sebagai pihak yang tidak bersalah.

Tujuh tahun berlalu, Billy kini tidak lagi bekerja sebagai anggota kepolisian New York Police Department. Bersama dengan asistennya, Katy Bradshaw (Alona Tal), Billy bekerja sebagai seorang detektif swasta. Sebuah panggilan penting dari sang walikota kemudian mengembalikan Billy ke memori lamanya. Sang walikota sendiri – yang sedang berada dalam kesibukan masa kampanye – kemudian meminta bantuan Billy untuk menyelidiki dugaan bahwa istrinya, Cathleen (Catherine Zeta-Jones) kini sedang berselingkuh darinya. Dengan bayaran yang cukup besar, tugas tersebut akhirnya dilaksanakan Billy dan dapat diselesaikannya dengan mudah. Namun, beberapa saat sebelum Billy menyerahkan laporannya pada sang walikota, Cathleen datang menghampiri Billy dan mengungkapkan bahwa dirinya justru sedang berada di dalam jebakan sang walikota.

Meskipun mendapatkan dukungan penampilan dari para aktor maupun aktris kaliber Oscar, mungkin ada baiknya bagi para penonton Broken City untuk menghindarkan diri mereka dari ekspektasi bahwa mereka akan menyaksikan sebuah drama thriller politis yang mampu berjalan kuat serta provokatif. Broken City sangat jauh dari pencapaian tersebut. Mark Wahlberg, Russell Crowe dan Catherine Zeta-Jones masih mampu memberikan penampilan yang cukup lumayan – meskipun dengan pengembangan karakter yang begitu terbatas. Dukungan akting dari  Jeffrey Wright, Kyle Chandler, Barry Pepper dan Alona Tal – yang seringkali mencuri perhatian di setiap kehadirannya – juga semakin memperkuat kualitas penampilan departemen akting dari Broken City.

Permasalahan terbesar dari Broken City terletak pada penulisan naskah ceritanya. Di tangan penulis-penulis naskah yang mungkin lebih berpengalaman dalam menata jalan penceritaan sejenis, tema penceritaan yang menyentuh wilayah politik serta dunia kepolisian seperti yang dihadirkan dalam Broken City mungkin akan mampu disajikan sebagai sebuah drama politik yang menegangkan sekaligus mampu memicu ketertarikan penonton dalam mempertanyakan begitu banyak hal dari dalam jalan cerita film. Sayangnya, penulis naskah film ini, Brian Tucker, sama sekali tidak memiliki kemampuan yang begitu mendalam dalam menggarap naskah ceritanya. Dunia politik dan kepolisian lebih sering terlihat hadir hanyalah sebagai latar belakang kisah secara keseluruhan dan tidak pernah mampu dihadirkan secara mendalam untuk memperkaya unsur penceritaan film.

Kelemahan tersebut masih hadir dalam bentuk kontinuitas Tucker dalam merangkai jalan cerita Broken City. Banyak bagian plot cerita yang gagal untuk dikembangkan dengan baik. Beberapa diantaranya malah terkesan menghilang secara tiba-tiba di tengah-tengah penceritaan tanpa penjelasan kuat. Hal yang sama juga dapat menggambarkan bagaimana kualitas penulisan Tucker terhadap karakter-karakter yang ada di dalam jalan cerita filmnya. Karakter-karakter yang dihadirkannya terkesan begitu datar dan tidak pernah mampu terlihat menarik. Sebuah usaha untuk meningkatkan intensitas cerita dengan menghadirkan sebuah kejutan di akhir kisah justru menjadi terkesan sia-sia dan konyol akibat eksekusi keseluruhan yang terlah terlanjur berjalan datar.

Sejujurnya, Broken City bukanlah sebuah presentasi yang begitu buruk. Bahkan, pada 45 menit awal penceritaan film ini, sutradara Allen Hughes mampu menghadirkan sebuah jalinan kisah yang potensial untuk dapat berkembang menjadi sebuah garis penceritaan yang menarik. Sayangnya, hal tersebut tidak pernah dapat benar-benar terjadi. Broken City tampil berusaha untuk menyentuh berbagai tingkatan penceritaan yang biasa dihadirkan dalam film-film sejenis, namun gagal untuk memberikan penggalian yang mendalam untuk dapat membuat kualitas penceritaannya menjadi memuaskan secara keseluruhan. Watchable… namun jelas bukan sebuah karya yang akan banyak diingat penontonnya dalam waktu yang lama.


Rating: ★★★★★★☆☆☆☆