phone: +6281254509366
e-mail: rizki_apriady46@yahoo.co.id

Review Thor (2011)


“The god of thunder. The king of Asgard. The god of mischief. The guardian of worlds. The goddess of war. The woman of science“

“And you are an old man and a fool!” begitulah pekik angkuh Thor (Chris Hemsworth) kepada Odin (Anthony Hopkins), ayahnya yang langsung membuat penguasa tertinggi Asgard itu geram luar biasa, bukan hanya karena Thor menghina dan tidak mematuhi dirinya sebagai ayah dan Raja, namun juga karena  kesombongan dan perbuatan lancang putranya itu yang kemudian memicu kembali perang lama dengan kaum Frost Giants dari dunia Jotunheim . Dan apa yang terjadi kemudian, tidak hanya melepaskan segala kekuatan kedewaannya, Odin pun membuang  Thor ke bumi termasuk melucuti Mjolnir- palu sakti dari tangannya sebagai  hukuman setimpal atas segala perbuatannya itu.

Di bumi, Thor bertemu dengan astrophysicist cantik,  Jane Foster (Natalie Portman) yang kemudian menolongnya untuk memulai fase barunya sebagai manusia biasa dan mencari arti  tentang hidup serta bersikap sebagai ksatria sejati guna memperoleh kekuatannya kembali- dan Mjolnir tentunya. Sementara itu di Asgard, adik laki-lakinya yang licik, Loki (Tom Hiddleston) merencanakan rencana jahat buat Asgard dan juga bumi kita.

Thor, untuk ukuran seorang pahlawan super pamor dewa guntur ini mungkin tidak setenar pahlawan-pahlawan Marvel Comics lain macam Spiderman, Hulk, Iron Man maupun X-Men. Ironis memang, padahal dari segi kekuatan Thor jelas jauh lebih dahsyat dari si manusia laba-laba, ilmuwan hijau pemarah, miliyuner hedon dengan baju besinya, atau kumpulan para manusia mutan, tapi karena ia adalah refleksi alternatif dari sebuah mitologi kuno kaum Norse yang jauh dari bayangan akan sosok superhero ideal, maka tidak terlalu heran jika Thor menjadi kurang populer. Tapi tunggu dulu, pihak Marvel dan Paramount rupanya masih percaya bahwa superhero mereka satu ini masih memiliki daya magis untuk tetap dinanti oleh para penontonnya, baik oleh die hard fans-nya sendiri atau sekedar penikmat film awam seperti saya, bukan hanya dikarenakan film ini menawarkan sebuah paket hiburan superhero yang menarik seperti koleganya- setidaknya melihat dari trailernya yang keren itu, namun yang terpenting juga karena ini  menjadi kepingan puzzle lain untuk  melengkapi proyek besar nan ambisus Marvel Studios, The Avengers 2012 nanti.

Ok, mari kita membahas bagaimana sepak terjang anak dewa Norse yang rupanya berhasil digarap memukau oleh sutradara sekaligus aktor, Kenneth Branagh. Ya, Branagh sukses menampik segala keraguan yang dialamatkan kepadanya sebelumnya dengan menghadirkan Thor sebagai sebuah sajian superhero yang tidak hanya terlihat megah-menawan secara fisik namun juga  mengasyikan dan enjoyable dalam prosesnya bercerita, terlebih disaat Branangh mampu menerjemahkan naskah yang ditulis trio Ashley Edward, MillerZack dan StentzDon Payne dengan sangat baik, mengawinkan segala pesona pahlawan super dengan segala efek cantikya, mitologi kuno, dan juga Shakespeare dalam satu kesatuan utuh, seperti melihat Hamlet versi ringan dalam wujud manusia super, membuat Thor terasa lebih meyengarkan ketimbang kisah-kisah superhero lainnya.

Aksi, spesial efek, romansa, sedikit komedi serta pertarungan kebaikan melawan kejahatan, Ya, Branagh sepertinya tahu benar memasukan setiap elemen dalam setiap kisah superhero yang ada untuk membentuk Thor dengan segala kemagisannya. Lihat saja bagaimana Asgard yang disajikan begitu cantik dan begitu menawan dengan tata artistik yang jempolan serta warna-warni cemerlang. Menggabungkan cita rasa kuno dan modern seperti yang terlihat pada setiap bangunan kota para Dewa itu termasuk interior sampai kostum-kostum mengkilat yang dikenakan para pejuangnya. Rangkaian Momen aksinya yang seru pun tidak ketinggalan memenuhi durasinya yang mencapai hampir dua jam, dari pertarungan Thor bersama teman-teman setianya di Jotunheim yang dingin itu sampai adegan penghancuran total di sebuah kota di New Mexico oleh The Destroyer di akhir cerita.

Menunjuk aktor kurang terkenal Chris Hemsworth untuk didapuk menjadi sang Dewa Petir bisa jadi adalah perjudian yang berbuah manis. Jujur saja ini adalah sebuah keputusan tepat saya menyukai penampilan Hemsworth  disini, terlepas dari segi fisiknya yang memang pas memerankan sosok Thor dengan modal postur tinggi besarnya, rambut dan janggut keemasan yang menghiasi wajah manisnya, aktor yang sempat berperan sebagai George Kirk – ayah kapten Kirk dalam reboot Star Trek arahan J.J Abrams ini memang sukses mengambil simpati penontonnya dengan segala sifat keangkuhannya sebagai anak Dewa dan tingkah laku komikalnya sebagai manusia biasa.

Untuk pemeran pendukung lainnya sepertinya juga tidak ada masalah berarti. Memasang aktor senior sekelas Anthony Hopkins dengan segala kharisma hebatnya sebagai Odin terbukti berhasil menghadirkan sosok Raja para dewa yang berwibawa. Natalie Portman sebagai Jane Foster, love interst Thor pun masih menawarkan kencantikannya yang tidak hanya mampu mempesona dewa Norse namun juga para penontonnya. Bahkan karakter Heimdall yang dibawakan Idris Alba pun masih memiliki porsi menarik tersendiri sebagai Heimdalll, penjaga gerbang bifröst. Mungkin hanya Kat Dennings yang membawakan Darcy Lewis menjadi satu-satunya peran yang sama sekali tidak penting, kecuali disaat ia menyetrum Thor sampai pingsan di awal-awal cerita sebelum ia sempat memperkenalkan siapa dirinya, ya, adegan itu memang menghibur.

Bukan film superhero terbaik yang pernah saya tonton memang, tapi dengan segala kombinasi kemagisan mitologi kunonya, aksi seru yang mengasyikan, spesial efek cantik, naskah menarik plus balutan eksekusi cepat nan memukau,  Thor jelas dengan mudah dapat memenangi hati penontonnya seperti disaai ia juga dengan mudah memenangi hati Jane Foster untuk menjadi sebuah sugguhan action superhero flick  renyah dan menghibur. Well Done Kenneth Branagh, well done!.


Rating
 

0 comments: