phone: +6281254509366
e-mail: rizki_apriady46@yahoo.co.id
Showing posts with label Band Profile. Show all posts

Tentang The Temper Trap


The Temper Trap, inilah band asal Australia yang menjadikan Dougie Mandagi (vokalis) yang asli asal Manado, indonesia berhasil menyambagi 10 kota di UK dengan suara falset manadonya. Bahkan band yang beranggotakan: Dougie (indonesia) sebagai Vokalis, Lorenzo (Australia) di Gitar, Toby (Australia) di Drum dan Jonathon (Australia) di Bass berhasil mendapat kepercayaan untuk menjadikan lagu Sweet Disposition nya sebagai sountrack film Hollywood 500 DAYS OF SUMMER. Suara Dougi memang mirip-mirip dengan vokalis band Cold Play dan Saybia, tetapi gaya dari Dougie sangat mencirikan sekali orang asal Indonesia yang khas agak-agak norak. Tapi walaupun begitu dia satu-satunya atau orang pertama yang bernyanyi untuk soundtrack film hollywood.

Film 500 DAYS OF SUMMER sendiri bercerita tentang seorang lelaki bernama Tom yang bekerja sebagai penulis kartu ucapan di Los Angeles bertemu dengan sekretaris baru bosnya Summer Finn yang kemudian jatuh cinta. Namun sayang, Summer tidak percaya pada cinta sejati. Dan dari inilah kisah mereka dalam mengejar kisah cinta yang indah itu. Film 500 DAYS OF SUMMER yang dibintangi oleh Joseph Gordon-Levitt dan Zooey Deschanel ini rencananya akan mulai dirilis secara global 5 Agustus mendatang, tapi ternyata telah dirilis secara terbatas di 27 bioskop Amerika Serikat.


Semua kisah band The Temper Trap ini bermula dari seorang anak muda bernama Dougy Mandagi. Lahir di Indonesia, dan hidup dalam keluarga yang kental dengan darah seni, membuat Dougy memperoleh banyak pengaruh dalam kehidupan bermusiknya. Masa-masa kecil Dougy ini dihabiskan dengan mengikuti paduan suara di gereja bersama paman dan bibinya, atau mendengarkan ayahnya bermain musik country dengan gitarnya.

Setelah merantau kesana-kemari, Dougy akhirnya berlabuh di Melbourne, sebuah Kota di daratan Australia. Dan di sinilah semua keajaiban itu dimulai. Dougy yang yang bekerja sebagai pelukis foto dan hanya berpenghasilan tak lebih dari $25, bertemu Toby yang ternyata seorang drummer. Dougy lalu mengajaknya bergabung, dan tak lama kemudian Jonathon bergabung sebagai bassist. Lorenzo sang Gitaris,yang juga teman lama dari Toby, bergabung terakhir untuk melengkapi The Temper Trap. Bersama Dougy sebagai frontman band ini, The Temper Trap sudah menulis banyak lagu dan sesekali bermain di gigs kecil di lingkungan sekitar.Sampai akhirnya datanglah seorang produser legendaris bernama Jim Abiss. Produser yang sukses mengorbitkan Arctic Monkey dan The Kasabian ini bahkan sampai rela terbang jauh-jauh ke Melbourne hanya untuk mengurus album pertama The Temper Trap.

Album Pertama The Temper Trap yang berjudul Conditions, sangat diterima dengan baik tidak hanya di Australia, tetapi sampai ke dataran Britania Raya. Hal itu dibuktikan dari nilai penjualan albumnya. Di Indonesia sendiri, lagu Sweet Disposition ini pernah juga dipakai sebagai lagu untuk iklan Jiffest (Jakarta International Film Festival) 2009.

The Temper Trap personel :
Dougy - Vocal, Guitar | Jonathon - Bass | Lorenzo - Guitar | Toby - Drums

Kembali ke Awal, bagi anda yang belum pernah dengar suara Dougie, pasti akan langsung suka
dengan suara kerennya. Berikut adalah video dari band The Temper Trap.

Mengenal Tentang The S.I.G.I.T

Yang diperlukan untuk membuat sebuah band dan mengupayakan supaya bandnya bisa sukses atau setidaknya berjalan terus adalah kesungguhan dan usaha, sisanya adalah murni unsur keberuntungan.” - Rektivianto Yoewono

The S.I.G.I.T bukanlah sebuah band karbitan yang sekedar mengandalkan unsur keberuntungan. Perjalanan karir mereka dimulai dari pertemanan semenjak duduk di bangku sekolah menengah pertama. Proses demi proses mereka lalui hingga kini The S.I.G.I.T banyak dianggap sebagai salah satu grup musik garda depan dari generasi muda di dunia musik rock Indonesia. Pada awalnya, para personil The S.I.G.I.T yakni Rektivianto Yoewono (Vocal, gitar), Farri Icksan Wibisana (Gitar), Aditya Bagja Mulyana (Bas, vokal latar) dan Donar Armando Ekana / Acil (Drum) hanyalah sekumpulan pecinta musik akut yang setiap hari di kepala mereka berisi band-band favorit serta segala seluk beluk teknis musik seperti gitar, efek ataupun cerita-cerita biografi. “Mungkin tarafnya sama seperti anak remaja yang menggilai pemain bola dan tim sepak bola,“ kenang Rekti mengenai masa remajanya dulu. Berangkat dari kecintaan yang dalam terhadap musik serta mengidolakan berbagai band yang sama, maka kala itu mereka berempat sepakat untuk mengubah predikat selama ini dari pendengar musik menjadi pemain musik.

Kemampuan bermain musik yang mereka pelajari secara otodidak menjadi modal awal untuk menjadi ‘anak band’. “Skill permainan masing-masing juga berawal dari tahap yang sama dan pengembangan skill permainan dan pembuatan lagu juga diasah bareng selama ini,” tukas Rekti. Walau sudah bermain musik bersama sedari SMP (1997), namun nama The S.I.G.I.T baru digunakan pada tahun 2002, saat mereka tengah duduk di bangku perguruan tinggi seiring juga mereka memfokuskan diri untuk memainkan lagu-lagu ciptaan sendiri. Sebelum menggunakan nama The S.I.G.I.T, band ini kerap memainkan berbagai lagu dari banyak band idola mereka seperti Led Zeppelin, The Clash dan The Stooges. Nama The S.I.G.I.T sendiri merupakan kepanjangan dari The Super Insurgent Group of Intemperance Talent yang merupakan buah pikiran Rekti yang terinspirasi dari nama-nama band di luar sana yang kerap menggunakan singkatan yang memiliki banyak arti.

Penampilan perdana mereka di bawah nama The S.I.G.I.T terjadi pada tanggal 23 Oktober 2003 dalam sebuah acara fakultas Arsitektur, Universitas Parahyangan. Kebetulan Farri dan Acil memang berkuliah disana. Setelah penampilan perdana tersebut, nama The S.I.G.I.T pelan-pelan mulai bergaung di kalangan kampus. Acara demi acara di kampus mulai menjadi santapan mingguan mereka.

Hingga pada saat itu, mereka mendapat tawaran dari Spills Records untuk merilis sebuah mini album. Di tahun 2004, debut mini album yang hanya dikerjakan dalam waktu dua minggu akhirnya dirilis dan mendapat sambutan positif dari berbagai pihak. Walau begitu, pemunculan mereka kala itu juga tidak lepas dari komentar miring sebagian pihak yang menganggap mereka hanyalah band yang mengikuti tren saja. Anggapan itu muncul karena musik rock yang mereka mainkan serupa dengan musik garage rock yang di awal periode 2000-an sedang naik daun.

Untuk anggapan miring tersebut, Rekti berpendapat, “Memang kebetulan pada era awal 2000an sedang marak band-band rock revival seperti The Strokes, The Datsuns, The White Stripes dan mereka saat itu ‘dilabeli’ sebagai garage rock. Memang kami mengikuti dan mendengarkan band-band tersebut. Bukan karena sedang booming, melainkan karena kami selalu menggemari musik semacam itu. Dan yang kami rasakan saat itu adalah euforia. Bayangkan gimana rasanya aliran musik yang anda gemari bangkit kembali dan bermunculan lagi band-band yang menarik. Namun tanpa adanya booming garage rock pun saya yakin kami akan menjadi band seperti kami sekarang, yang mendapatkan banyak influence dari band rock 60-70an.”